Sabtu, 1 November 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Ada Perselingkuhan di KRL
Kamis, 22 Maret 2012 | 05:29 WIB
Ada Perselingkuhan di KRL

Oleh: Taryadi Sum 

kompasiana: Kang_Yadi

Kisah cinta kilat dan terlarang di kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek sepertinya bukan isapan jempol belaka. Setelah hampir sepuluh tahun menggunakan moda transportasi massal ini, setidaknya tiga kali saya melihat atau mendengar langsung kisah penyimpangan asmara.

Yang pertama terjadi antara tahun 2002 dan 2003. Saat itu terjadi penumpukan di semua stasiun karena ada kereta yang mogok, termasuk di Stasiun Bojong Gede Bogor, tempat saya naik kereta. Saya melihat seorang perempuan berusia sekitar 35 tahun didatangi oleh laki-laki setengah baya.

Selang 10 menit, sang pria membuka percakapan dengan menanyakan tujuan si wanita. Mereka pun berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri. Tak butuh lama bagi mereka untuk terlihat lebih akrab. Sampai di sini, saya berusaha terlihat tak peduli akan keakraban mereka yang secepat kilat.

Kereta yang saya tunggu akhir-nya datang. Tak disangka, mereka duduk berdampingan di hadapan saya. Lelah bekerja seharian membuat saya tertidur dan baru terjaga setelah melewati beberapa stasiun. Di hadapan saya, perempuan tadi terlihat pulas bersandar di pelukan lelaki yang baru dikenalnya. Setelah itu saya tidak tahu lagi karena harus turun dari kereta.

Kejadian kedua berlangsung beberapa tahun kemudian. Seorang wanita muda, sekitar 25 tahun, sudah berdiri di dekat pintu ketika saya naik. Lewat tiga stasiun berikutnya, masuklah seorang lelaki yang kelihatannya hanya sedikit lebih tua dari wanita itu. Mereka berdiri sangat dekat.

Sang pria menyapa, lalu ke-duanya terlibat dalam percakapan hangat.  Saya mau tak mau mende-ngar seluruh obrolan mereka karena hanya setengah meter dari tempat mereka berdiri.

Si wanita bercerita sudah dua hari pergi ke Jakarta meninggalkan suami dan anak kecilnya. Sang pria tampak sedang menangkap peluang dengan menawarkan makan

malam di Bogor. Perempuan itu mengangguk disertai sebuah senyuman. Goncangan kereta Pasar Minggu-Bogor makin merapatkan keduanya hingga akhirnya mereka berpelukan.

Yang ketiga adalah cerita teman saya. Berangkat dan pulang pada jam dan gerbong yang sama setiap hari, ia jadi mengenal penumpang lain dengan kebiasaan serupa, termasuk seorang wanita. Berawal dari menanyakan jadwal kereta, wanita itu curhat mengenai suaminya, seorang pelaut yang jarang pulang. Untung saja, ia tidak terpancing ketika perempuan itu mengeluh ketakutan jika sendirian di rumah.

Kejadian perselingkuhan di KRL saya anggap sebagai sebuah penyimpangan. Meskipun  tiga kejadian tadi cukup menjadi bukti perselingkuhan di kereta, saya yakin hal itu tidak mewakili perilaku penumpang pada umumnya.

Sumber http://kom.ps/AxIX9

Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!