Sabtu, 20 September 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
CAP GO MEH 2012
Pesan Kebangsaan dari Pontianak hingga Bogor
Selasa, 7 Februari 2012 | 04:56 WIB
KOMPAS/A HANDOKO
Ribuan warga dan wisatawan memadati Jalan Gajah Mada, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (6/2), untuk menyaksikan atraksi replika naga dalam Pawai Budaya Nusantara. Selain atraksi replika naga, kesenian tradisional dari sejumlah kelompok etnis yang ada di Pontianak juga mengisi pawai dalam rangka perayaan Cap Go Meh.

Oleh A Handoko, Sri Rejeki, dan Anthony Lee

Cap Go Meh adalah perayaan hari ke-15 pada bulan pertama tahun Imlek bagi masyarakat Tionghoa. Di Pontianak dan di semua tempat perayaan di negeri ini, Cap Go Meh dirayakan dengan satu pesan: kebangsaan. 

Cap Go Meh yang rutin diperingati dengan pawai dan upacara lain sejak tahun 2000 (pascareformasi Indonesia) dilaksanakan secara inklusif, yaitu melibatkan berbagai suku dan agama lain di luar warga Tionghoa. Di Pontianak (Kalimantan Barat), Bogor (Jawa Barat), Semarang dan Solo (Jawa Tengah), serta Yogyakarta, saudara sebangsa ikut merayakannya. Di Yogyakarta, misalnya, setidaknya dalam lima tahun terakhir, sinergi dan kajian akademis antaretnis tentang masalah budaya ini telah melahirkan pengertian baru yang menyuburkan persaudaraan.

Semua kelompok etnis di Kota Pontianak, Senin (6/2), terlibat Pawai Budaya Nusantara, yaitu rangkaian perayaan Cap Go Meh yang dipusatkan di Yayasan Bhakti Suci, Jalan Gajah Mada.

Masyarakat Dayak yang terlibat dalam acara itu melalui Majelis Adat Dayak secara swadaya membiayai persiapan dan keperluan selama tampil membawakan tarian tradisional dan musik mereka. ”Ini bentuk rasa persaudaraan yang kami berikan karena teman etnis Tionghoa juga selalu terlibat dalam acara yang kami gelar,” ujar Ketua Perhimpunan Perempuan Dayak Kalimantan Barat Katarina Lies.

”Mereka ingin menegaskan bahwa sikap saling bersaudara itu penting dikembangkan. Di Kalbar ini jangan ada lagi pengotak-ngotakan etnis karena akan sangat rawan konflik,” ujar Kolonel Toto Rinanto, Komandan Komando Resor Militer 121 Alambanawanai.

Pawai Budaya Nusantara merupakan acara puncak perayaan Cap Go Meh di Pontianak. Pawai diisi dengan atraksi beberapa replika naga dan pertunjukan kesenian tradisional dari kelompok etnis yang ada di Pontianak, di antaranya Dayak, Melayu, Batak, Madura, Jawa, Nusa Tenggara, dan Manado.

Wakil Ketua Panitia Cap Go Meh Pontianak Buyung Bunadi mengatakan, perayaan sengaja tidak hanya menampilkan replika naga yang mewakili kekhasan warga Tionghoa.

”Kami ingin mempererat tali persaudaraan dengan masyarakat etnis lain karena memang di Pontianak dan di Kalbar pada umumnya, masyarakat sangat heterogen,” ujar Buyung.

Buyung berharap dengan kokohnya tali persaudaraan di antara setiap etnis serta kerukunan dan keamanan Pontianak bisa terus terjaga. Maklum Kota Pontianak dan beberapa daerah lain di Kalbar, seperti Singkawang, Bengkayang, dan Sambas, pernah dikoyak oleh kerusuhan sosial berlatar belakang perbedaan etnis beberapa tahun lalu.

Maka, dalam perayaan Cap Go Meh kali ini, misalnya, terlihat di belakang rombongan para pemain musik dan penari tradisional Dayak, menyusul kemudian rombongan penari Batak. Mereka unjuk kebolehan di hadapan sejumlah tamu undangan, seperti Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya dan Wali Kota Pontianak Sutarmidji, dan ribuan masyarakat di sekitar panggung kehormatan.

Pawai itu mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat Pontianak dan wisatawan. Tak kurang 5.000 warga Pontianak dari berbagai etnis dan wisatawan memadati Jalan Gajah Mada sejak beberapa jam sebelum pawai dimulai.

Christiandy Sanjaya mengungkapkan, keberagaman etnis merupakan modal dasar untuk membangun Kalimantan Barat. Sutarmidji mengatakan, Cap Go Meh akan menjadi agenda wisata tahunan Pontianak. Pernyataan senada dikemukakan Wali Kota Singkawang Hasan Karman yang menjadikan pawai tatung sebagai ikon wisata Singkawang.

Di Kota Solo, perayaan Cap Go Meh ditandai dengan bersih kota melalui kirab barongsai dan liong. Ada dua tempat ibadah (kelenteng) Tri Dharma di Solo yang menyelenggarakan acara ini, yakni Tien Kok Sie di Pasar Gede dan Poo An Kiong di Coyudan. Liong dan barongsai dari Tien Kok Sie dimainkan oleh kelompok Macan Putih dari Kelurahan Sudiroprajan. Anggota Macan Putih ternyata justru lebih banyak non-Tionghoa. Pengamat budaya Tionghoa, Aryanto Wong, melihat sajian lontong Cap Go Meh yang muncul pada perayaan ini hanya ditemukan di tanah Jawa, tidak di Kalimantan atau di Tiongkok. ”Saya menduga inilah akulturasi dengan budaya di Jawa, bakda kupat atau lebaran ketupat.”

Di Bogor, persaudaraan yang menghasilkan akulturasi budaya itu terlihat di Jalan Suryakencana, Senin. Dari Wihara Dhanagun hingga pertigaan Batu Tulis sepanjang 1,6 kilometer, belasan ribu orang memadati jalan, menyaksikan kirab liong dan barongsai serta joli (tandu) yang mengangkut kimsin (patung) dewa-dewa dari sejumlah kelenteng.

Bukan hanya itu, Komunitas Kampung Budaya Sindangbarang dari Tamansari, Kabupaten Bogor, menampilkan kebudayaan Sunda, seren taun. Lalu perguruan silat Persatuan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih di Bogor juga menyuguhkan kielin, tarian mirip barongsai yang mengangkat citra hewan tunggangan dewa. Komunitas mahasiswa Papua di Bogor juga menyumbang dua tarian.

Setidaknya ada 2.000 orang yang terlibat dalam kirab, baik sebagai panitia maupun peserta kirab. Lebih dari separuhnya justru bukan etnis Tionghoa. Sebagian besar adalah pemain barongsai dan liong. Bahkan, pembuat liong dan barongsai yang banyak dipakai hari itu justru orang Sunda Bogor tulen, Lili Hambali namanya.

Selain itu, ada juga sekitar 70 anggota Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) yang bertugas mengomunikasikan jarak antarjoli agar tidak terlalu jauh. ”Ini sukarela. Sama sekali tidak dibayar,” tutur Edi Kusmayadi (50), anggota RAPI Kota Bogor.

Menurut Jimmy, anggota PGB Bangau Putih yang juga dari bagian Humas Panitia Perayaan Cap Go Meh Bogor, kepanitiaan lintas etnis, budaya, dan agama bisa menyatu karena mereka memulai dari kebudayaan, sesuatu yang sifatnya netral dan bisa diterima semua pihak.

”Kalau mulai dari perbedaan agama, tidak akan ketemu.”

Bagi Jimmy, Cap Go Meh kali ini memberi sisi lain dari wajah Bogor, yang sejuk. Kota Bogor selama ini disorot lantaran sengketa izin mendirikan bangunan Gereja Kristen Indonesia Taman Yasmin yang tak kunjung beres.

Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!