Kamis, 2 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Kembali ke Index Topik Pilihan
Berat Badan Turun Berkat Puasa
Senin, 16 Agustus 2010 | 08:00 WIB
SHUTTERSTOCK
Tambahkan apel dalam menu sahur, dan konsumsi saat menjelang imsak lalu tutup dengan minum air putih.
TERKAIT:

KOMPAS.com - Waktu dan pola makan yang berubah saat menjalankan ibadah puasa, sangat mungkin menurunkan berat badan. Namun seringkali berat badan tak berubah karena pilihan makanan yang salah saat sahur dan berbuka puasa. Apalagi jika tak dibarengi olahraga teratur dengan rumusan tepat melihat frekuensi, intensitas, time, dan type (FITT).

"Banyak orang yang merasa berat badan menurun selama berpuasa namun kembali naik saat Lebaran. Alasannya, makanan di hari raya membuat berat badan kembali naik. Padahal pilihan makanan selama berpuasa yang keliru menjadi penyebab utamanya," kata spesialis kedokteran olah raga, dr Grace Tumbelaka, SpKO, kepada Kompas Female, Kamis (12/8/2010) lalu.

Menurut dr Grace, menurunkan berat badan selama berpuasa di bulan Ramadhan bisa saja berhasil, asalkan mengikuti kaidahnya:

Selalu rutin makan sahur
Usahakan untuk tidak melewati waktu sahur dengan mengonsumsi sepertiga porsi makan sehari. Ukurannya sama seperti sarapan pagi di luar bulan puasa. Tubuh memang membutuhkan cadangan energi, selama menunda makan 14 jam. Namun bukan berarti Anda harus makan lebih banyak. Sebaiknya makan dengan porsi cukup dan berhenti sebelum kenyang. Menu sahur juga perlu diperhatikan, pastikan zat gizi seimbang, dengan komposisi karbohidrat, protein, dan lemak yang tepat.

Hindari santan, lemak dan gula sederhana
Memilih menu saat berbuka puasa dan sahur prinsipnya sama, hindari makanan bersantan, berlemak, dan gula sederhana. Meski banyak pilihan makanan khas Ramadhan, seperti kolak, es buah, es sirup, dan berbagai minuman manis lainnya, sebaiknya konsumsi dalam porsi sedikit saja. Kolak misalnya, cukup makan buah pisangnya saja tanpa air gulanya. Makanan yang populer di bulan puasa mengandung gula sederhana dengan indeks glikemik (GI) tinggi.

Makanan dengan indeks glikemik (GI) tinggi mempercepat rangsangan terhadap pengeluaran hormon insulin. Insulin berfungsi mengalirkan gula dalam tubuh. Makanan yang merangsang insulin akan cepat menaikkan gula darah dan membuat tubuh mudah kembali lemas, lapar, dan cenderung makan lebih banyak. Penumpukan lemak dalam tubuh terbantukan dengan pengeluaran insulin yang cepat.

Konsumsi makanan manis dari sumber alami: buah-buahan
Kurma, pisang, dan apel, merupakan sumber makanan kaya serat dan memberikan rasa manis yang bisa menggantikan gula. Makanan manis dari buah bisa membantu tubuh untuk mencerna sekaligus memberikan asupan energi secara perlahan. Berbeda dengan makanan manis yang bersumber dari gula buatan, yang cepat memberikan efek lebih berenergi, namun secara drastis.

Kalaupun tetap merasa perlu mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung GI tinggi, batasi porsinya. Sebaliknya, seimbangkan dengan makanan mengandung GI rendah dalam porsi lebih besar. Terapkan pola makan sehat seperti ini saat sahur dan berbuka puasa.

Tetap rutin berolahraga
Berolahraga saat berpuasa tetap harus dijalankan. Jikapun mengurangi frekuensinya usahakan tetap minimal tiga kali seminggu.

Dispilin diri dan mengontrol pola makan bisa dilatih saat berpuasa. Rasanya cara ini lebih bisa menjawab apakah kelak berat badan bisa turun karenanya.

Penulis: WAF   |   Editor: Dini Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!