Jumat, 31 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Program Kesehatan
Seimbangkan Upaya Preventif dan Kuratif
Selasa, 27 Juli 2010 | 09:27 WIB
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Tukang becak membaca selebaran tentang penyakit tuberkulosis (TB) yang dibagikan aktivis dari Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta saat memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia di sekitar Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah, Rabu (24/3). Mereka mengampanyekan bahaya penyakit tuberkulosis yang di Indonesia menjadi penyebab kematian sekitar 100.000 pengidap per tahun.
TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Program pemerintah yang selama ini terlalu fokus pada upaya mengobati (kuratif) ternyata berdampak buruk pada angka kesehatan masyarakat. Untuk itu, pemerintah diharapkan menggalakan program "Paradigma Sehat" yang berfokus pada kesetaraan antara upaya pencegahan penyakit (preventif) dan (penyembuhan) kuratif.

"Kalau kita hanya berkutat pada paradigma kuratif, penyakit-penyakit menular dan berbahaya yang banyak berkembang saat ini tidak akan bisa kita cegah. Kita harus melompat dari pardigma lama ke pola pikir baru. Yaitu bagaimana melakukan upaya promosi, preventif, dan proteksi serta pembangunan yang berkualitas," ungkap Prof Does Sampoerno dr MPH , Ketua Kolegium Keilmuan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI),  Senin (26/07/10) di Jakarta.

Menurutnya, program kuratif kerap menyesatkan pemikiran masyarakat yang menganggap semua orang sakit dapat disembuhkan sehingga menjadi sehat.  Sebaiknya, kata Prof Does, upaya preventif dan kuratif dilakukan bersama-sama karena sebelum sakit akan lebih mudah diobati dan biayanya lebih murah.

"Namun masalahnya, sampai sekarang masalah penanganan masyarakat adalah paradigma sakit, yaitu menyembuhkan orang sakit. Jumlah orang sakit yang kita ketahui 10-15 persen, sementara 80 persennya sehat. Namun tak tahu cara menjaga kesehatan karena tak ada perhatian yang cukup dari pemerintah," katanya.

Prof Does bilang, seharusnya mereka yang sehat diberi peningkatan derajat kesehatan, yang sehat bisa menjadi lebih sehat dan tahu cara menghindari penyakit.  "Upaya ini penting karena kalau mereka sakit maka produktivitas mereka akan hilang," imbuh Prof Does pada acara yang temu pers menjelang  Kongres Nasional XI IAKMI.

Hal ini penting karena mengingat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia semakin menurun dalam dua tahun terakhir. Jika pada 2007 berada di peringkat 107 dari 117 negara, pada tahun 2009 menurun menjadi peringkat 111.

Sementara target angka kematian ibu (AKI) sebesar 102 per 100.000 pada tahun 2015, pada tahun 2009 baru mencapai 228 per 100.000. Hal ini mencerminkan rendahnya IPM dan capaian MDGs yang merupakan indikator buramnya kondisi kesehatan Indonesia.

Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia, Prof Does menawarkan solusi yaitu menyeimbangkan anggaran kesehatan preventif dan kuratif. Hingga saat ini, kata Prof Does, sekitar 85 persen anggaran kesehatan dialokasikan pada upaya penyembuhan.

"Sementara dana yang dikeluarkan untuk mencegah penyakit sangat sedikit. Kalau ini dilakukan lebih efektif, jumlah orang sakit bisa berkurang," kata Prof Does.

Penulis: M01-10   |   Editor: Asep Candra Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!