Jumat, 31 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Mengatasi Gigi Berlubang
Selasa, 22 Juni 2010 | 11:06 WIB
shutterstock

KOMPAS.com — Kata penyanyi dangdut (almarhum) Meggi Z, lebih baik sakit gigi ketimbang sakit hati. Tapi Anda yang pernah merasakan sakit gigi pasti kapok kalau penyakit Anda ini kembali kambuh.

Sakit gigi identik dengan nyeri tak berkesudahan, disertai rasa pening dan sakit di sekujur tubuh. Bila gigi sudah terasa nyeri, jangankan bekerja, mengunyah makanan saja susah. Makanya, sakit gigi tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sakit gigi lazimnya dipicu gigi berlubang atau karies gigi. Jika lubang gigi telah sampai lapisan terdalam sehingga mencapai saraf gigi, siap-siap saja merasakan serangan ngilu dan nyeri di sekitar gigi.

Cara mengatasinya bisa dengan mencabut gigi yang berlubang. Begitu dicabut, dijamin nyeri gigi akan menghilang. Tapi, Anda bakal ompong karena terpaksa kehilangan gigi. Hal ini tentu akan mengurangi keindahan mulut.

Supaya tidak kehilangan gigi, Anda bisa memilih cara lain, yakni dengan menambal gigi yang berlubang tersebut. "Gigi itu aset berharga di mulut. Maka sebesar apa pun lubangnya, dokter gigi pasti memilih menambal ketimbang mencabut," kata Tri Erri Astoeti, pakar kesehatan gigi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta.

Serang jantung dan otak

Namun, penambalan gigi tidak boleh terlambat. Sebab, proses kerusakan pada gigi yang sudah berlubang tidak bisa berhenti hingga ke lapisan dalam. Kerusakan gigi juga bakal menembus jaringan pulpa.

Ini adalah jaringan di bawah gigi yang berisikan saraf dan pembuluh darah. "Kalau sampai tahap ini bakal terjadi radang," kata Tri.

Efeknya bukan sekadar rasa nyeri. Bakteri dan kuman di mulut bisa masuk ke pembuluh darah dan menyebar ke seluruh jaringan tubuh. Termasuk, bisa singgah di jantung yang merupakan pusat sirkulasi darah. "Ini berpotensi menimbulkan kelainan jantung," kata Wityo Witjaksono, dokter gigi yang membuka praktik pribadi di Bintaro, Jakarta Selatan.

Kuman dan bakteri juga bisa menyerang otak. Selaput otak akan rusak sehingga timbullah meningitis. "Penyebab ini paling sering terjadi, makanya gigi harus segera ditambal," kata Wityo.

Meski penambalan gigi harus cepat, tapi tidak boleh dilakukan tergesa-gesa. Dokter harus memastikan, masih ada atau tidak kuman di dalam lubang gigi. Jika lubang tidak bersih, penambalan tidak akan maksimal. "Kotoran tetap merusak gigi," kata Tri.

Begitu juga ketika lubang gigi sudah menembus jaringan pulpa. Dokter akan terlebih dulu mengambil jaringan yang rusak dan membersihkan seluruh lubang dari bakteri dan kuman.

Selain itu, harus dipastikan gigi yang ditambal dalam keadaan kokoh. Kalau gigi sudah goyang, tidak bisa dilakukan penambalan. Sebab, gigi sudah mati dan harus dicabut. (Kontan/Adi Wikanto)

KONTAN
Sumber :
Editor: Lusia Kus Anna Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!