Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Female Viagra Tak Sehebat yang Disangka
Jumat, 18 Juni 2010 | 07:03 WIB

Kompas.com - Penantian banyak orang akan kehadiran female viagra yang selama ini masih menunggu persetujuan Food and Drug Administration (FDA) usai sudah. Sayangnya, kemampuan female viagra ternyata tak sehebat yang disangka.

Setelah dua kali uji klinis yang dilakukan, FDA menyatakan flibanserin, nama generik female viagra itu, kurang efektif untuk meningkatkan gairah seksual pada wanita. Para responden wanita yang terlibat dalam penelitian melaporkan obat itu hanya sedikit meningkatkan kepuasan.

Dalam pernyataannya FDA menyatakan kriteria efektifitas female viagra adalah kemampuannya meningkatkan gairah seksual, baik saat terjadi hubungan seksual atau tidak.

Selain itu, FDA menemukan adanya efek samping berupa depresi, rasa kantuk, serta pusing pada wanita yang mengonsumsi pil berwarna pink itu. Obat yang sebenarnya merupakan antidepresan itu mempengaruhi serotonin dan beberapa senyawa kimia otak lainnya.

"Memang belum jelas bagaimana mekanisme obat ini terhadap kepuasan seksual tapi kami yakin obat ini mengaktifkan senyawa kimia tertentu di otak yang berfungsi dalam respon seksual manusia," kata Dr.Peter Piliero, direktur Boehringer Ingelheim, perusaan yang memproduksi flibanserin.

Sejak kemunculan Viagra, obat anti impotensi yang telah menolong jutaan laki-laki di dunia, para ahli terus mengembangkan penelitian untuk mencari obat untuk mengatasi disfungsi seksual pada wanita.

Dr.Elizabeth Kavaler, urolog, mengatakan munculnya gairah seksual dari dalam diri perempuan adalah hal yang rumit, sehingga tidak realistis jika mengharapkan sebuah pil yang mampu mengatasi masalah seksual.

"Berbeda dengan disfungsi seksual pada pria dimana terdapat masalah mekanisme mayor, pada wanita tidak faktor mekanisme, sehingga lebih sulit mencari penyebabnya," kata Kaveler.

Selama beberapa dekade sebenarnya telah hadir obat-obatan untuk meningkatkan gairah seksual wanita namun selalu gagal. Awalnya, obat itu bekerja dengan cara meningkatkan sirkulasi darah ke area genital, seperti halnya Viagra.

Generasi selanjutnya muncul obat yang bekerja dengan meningkatkan hormon testosteron yang dikaitkan dengan munculnya gairah seksual. Yang terakhir adalah Flibanserin, obat pertama yang bekerja pada senyawa kimia otak tertentu di otak.

Obat yang bisa memperbaiki disfungsi seksual memang amat diminati. Survei menunjukkan lebih dari 40 persen wanita mengalami gangguan seksual. Kehadiran flibanserin ini diharapkan bisa mengatasi gangguan tersebut, paling tidak 1 dari 10 wanita.

FDA memang belum memutuskan ijin edar flibanserin. Rencananya hari ini (18/6) akan digelar pertemuan dengan para pakar untuk menilai efektivitas dan keamanan female viagra. Kita tunggu saja.

AP
Sumber :
Penulis: AN   |   Editor: Lusia Kus Anna Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!