Rabu, 17 September 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Sesak di Usia Lanjut
Minggu, 6 Juni 2010 | 18:45 WIB
shutterstock

Usia saya 62 tahun dan pensiun sejak usia 56 tahun. Sudah sejak dua tahun ini saya merasa sesak napas. Saya sering pagi hari mengantar istri ke pasar. Istri biasanya berbelanja daging di pasar tradisional lantai dua. Jika mendaki tangga menuju lantai dua saya merasa sesak. Kadang-kadang saya harus berhenti dulu, beristirahat dan mengambil napas sebelum melanjutkan pendakian.

Saya juga sering mengalami batuk. Batuk kadang-kadang lama dan mengganggu tidur pada malam hari. Sepanjang pengetahuan saya, saya tak ada darah tinggi, kencing manis, maupun tinggi lemak. Tubuh saya agak kurus. Namun, saya memang punya kebiasaan merokok sejak sekolah dasar. Saya perokok berat dan baru berhenti setelah pensiun. Saya berhenti dengan susah payah, beberapa kali gagal, merokok lagi, tapi berkat dukungan istri sudah empat tahun ini saya tak merokok.

Saya pernah ke dokter puskesmas dan dikatakan saya menderita penyakit paru obstruktif menahun. Menurut dokter, rasa sesak dan batuk yang saya alami akibat kebiasaan merokok sejak kecil itu. Saya bersyukur karena jantung saya baik, tapi kata dokter jika keadaan paru saya memburuk dapat memengaruhi jantung saya.

Saya sekarang mengikuti senam bagi usia lanjut di daerah permukiman saya. Rasa sesak berkurang sedikit, tapi sesak masih mengganggu kegiatan saya sehari-hari. Saya jadi lebih banyak duduk dan kurang bergerak jalan. Apakah penyakit saya dapat disembuhkan? Mungkinkah paru-paru saya pulih kembali sehingga saya dapat menikmati usia pensiun ini dengan nyaman?

(M di J)

Jawaban

Kita semua sudah memahami merokok dapat mengganggu kesehatan. Salah satu pengaruh buruk rokok adalah gangguan pada paru-paru yang dapat berupa penyakit paru obstruktif menahun. Pada kelainan ini, pipa saluran napas penderita menyempit sehingga oksigen yang keluar masuk pipa saluran napas terganggu. Penyempitan ini disertai oleh penebalan selaput lendir saluran napas akibat iritasi dan proses peradangan.

Memang cukup banyak orang yang menderita penyakit paru obstruktif menahun akibat kebiasaan merokok. Kita bersyukur meski diusahakan dengan iklan bahwa merokok adalah lambang modern dan keperkasaan, tapi semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa justru kebiasaan merokok adalah kebiasaan yang dapat mengganggu kesehatan. Kita berharap iklan rokok akan semakin dibatasi sehingga masyarakat, terutama generasi muda, tak mendapat pesan yang menyesatkan.

Sebenarnya dengan bertambahnya usia, kemampuan paru menurun. Namun, penurunan ini pada perokok jauh lebih tajam dibandingkan dengan bukan perokok. Pada keadaan penyakit paru obstruktif menahun yang berat, penderita tak dapat bernapas secara biasa, harus dibantu dengan oksigen. Akibatnya, dia harus membawa tabung oksigen jika bepergian. Sudah tentu ini amat merepotkan.

Pada penyakit asma , pipa saluran napas yang menyempit dapat melebar kembali dengan obat pelebar pipa saluran napas (bronkodilator). Namun, berlainan dengan asma, tidaklah mudah melebarkan pipa saluran napas pada penderita penyakit paru obstruktif menahun.

Anda tak perlu putus asa, dengan pengobatan yang baik dan fisioterapi, kemampuan paru Anda dapat ditingkatkan meski sulit memulihkannya kembali. Selain perbaikan klinis, peningkatan kapasitas paru dapat diukur dengan alat yang disebut spirometer. Alat ini tersedia di rumah sakit.

Berhenti merokok

Langkah Anda menghentikan kebiasaan merokok amatlah tepat. Meski telah Anda sampaikan berhenti merokok merupakan perjuangan yang berat dan panjang, tapi Anda merupakan salah seorang yang berhasil berhenti merokok. Selamat! Menghentikan kebiasaan merokok tentu akan lebih baik jika dilakukan sewaktu muda, tapi kapan pun seseorang berhenti merokok dia akan merasakan manfaat penghentian merokok tersebut.

Kita tak akan membahas lagi akibat merokok, tapi sekarang ini yang lebih penting adalah menjaga agar generasi muda tidak merokok. Kita tak hanya harus berkampanye pada remaja laki-laki, tetapi juga pada remaja perempuan. Statistik menunjukkan, menghentikan kebiasaan merokok pada perempuan ternyata lebih sukar daripada laki-laki. Padahal, seorang perempuan tidak hanya akan mengalami dampak buruk bagi dirinya, tapi juga bagi anak-anak, suami, dan mungkin juga bagi janin yang dikandungnya.

Kita baru saja melalui hari antirokok sedunia. Kita boleh berbangga kota Padang Panjang mendapat penghargaan WHO atas inisiatif wali kota dan warganya memerangi rokok. Mudah-mudahan kota lain di Indonesia juga dapat memerangi kebiasaan merokok. Sekitar 20 tahun lalu, WHO juga pernah memberikan penghargaan kepada Fidel Castro yang memberi contoh menghentikan kebiasaan merokok.

Dr.Samsuridjal Djauzi

Kompas Cetak
Sumber :
Editor: Lusia Kus Anna Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!