Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Untuk Berobat, Warga Menempuh 67 Km
Jumat, 30 April 2010 | 06:19 WIB

Bajawa, Kompas - Untuk mendapatkan pertolongan medis, warga Desa Benteng Tawa, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, harus ke Rumah Sakit Umum Daerah Bajawa yang berjarak 67 kilometer. Biaya angkutan umum pergi pulang Rp 40.000 per orang.

Alternatif lain, warga berobat ke Puskesmas Marunggela di pusat kota Kecamatan Riung Barat. Namun, jaraknya lebih jauh karena melewati tiga kecamatan, yaitu Bajawa Utara, Soa, dan Wolomeze. Biayanya juga lebih besar, dengan ojek pergi pulang Rp 150.000 per orang. Jika menggunakan angkutan umum, biayanya Rp 70.000 per orang.

Kondisi memprihatinkan ini terjadi karena sejak 6 bulan lalu tidak ada perawat yang bertugas di Puskesmas Pembantu (Pustu) Lindi yang berjarak sekitar 7 km dari desa itu. Warga mengeluhkan kondisi itu, Kamis (29/4), saat Kompas berkunjung ke desa itu.

”Warga susah kalau sakit. Kami hanya mengandalkan pengobatan tradisional. Bagi ibu yang melahirkan, ya pasrah saja. Kalau bayi dan ibu selamat, bersyukur. Kalau tak tertolong, ya terima saja kenyataan,” kata Kepala Dusun Lewur Mok, Stanis Lausambi.

Menurut Stanis, sejak dua tahun lalu, aparat desa mengajukan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada agar ada penempatan bidan di pondok bersalin desa (polindes). Akan tetapi, sampai saat ini, usulan itu belum direspons. Akibatnya, polindes yang dibangun tahun 2008 sampai saat ini belum digunakan.

Selama ini, ibu bersalin hanya ditolong para ibu sekitarnya. ”Kami bersyukur, tidak ada ibu melahirkan atau bayi yang meninggal akibat proses persalinan tanpa bidan,” katanya.

Warga yang sakit juga terpaksa mengandalkan obat tradisional. Jika terkena malaria, misalnya, mereka mengonsumsi akar atau daun pepaya. Kalau sakit perut, diobati dengan meminum air rebusan daun pucuk jambu.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada Hildagardis Bhoko membenarkan adanya kekosongan perawat di Pustu Lindi. Menurut dia, perawat yang bertugas di sana sedang mengikuti pendidikan diploma tiga.

”Kami sudah menempatkan perawat pengganti, tapi yang bersangkutan berhalangan masuk karena cuti melahirkan. Kami juga pernah menempatkan petugas puskesmas sukarela, tapi jarang masuk. Sejak Senin lalu, kami menugaskan seorang bidan pegawai tidak tetap. Namun, selama 10 hari, bidan itu mengikuti orientasi di RSUD,” katanya.

Kebutuhan perawat di Kabupaten Ngada sangat besar. Selain dibutuhkan di RSUD, perawat juga diperlukan di 10 puskesmas, 33 pustu, dan 10 pos kesehatan desa. (SEM)

Kompas Cetak
Sumber :
Editor: Anna Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!