Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
TBC, Indonesia Tetap Urutan Ke-3
Sabtu, 20 Maret 2010 | 16:11 WIB

Jakarta, Kompas - Tuberkulosis tetap menjadi masalah besar kesehatan masyarakat. Indonesia masih di peringkat ketiga sebagai negara dengan kasus tuberkulosis terbanyak. Belakangan, masalah tuberkulosis diperberat dengan infeksi HIV/AIDS yang berkembang cepat.

Selain itu, juga muncul kasus TB-MDR (multi-drugs resistant—kebal terhadap bermacam obat). Hal itu dikatakan Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (PPML) Kementerian Kesehatan Iwan M Muljono pada acara brifing dengan pers menyambut Hari Tuberkulosis Sedunia, Jumat (19/3). Hari Tuberkulosis (TB) diperingati setiap tanggal 24 Maret.

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberkulosis. Penyakit tersebut ditularkan lewat udara melalui percikan dahak pengidap TB. Sebagian besar menyerang paru, tetapi bisa juga organ tubuh lain.

Pengidap tuberkulosis terbanyak berada di negara berkembang dan berpenduduk padat. Pengidap tuberkulosis terbanyak berada di India, China, dan Indonesia.

Di Indonesia, setiap tahun ditemukan sekitar setengah juta kasus baru TB. Separuh di antaranya adalah kasus TB menular, menyebabkan sekitar 100.000 kematian. Penyakit TB masih penyebab kematian terbanyak penyakit infeksi.

Tuberkulosis juga menjadi ancaman bagi produktivitas masyarakat—sekitar 70 persen pengidap ada dalam usia produktif. Temuan kasus terbanyak, yaitu di Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Banten.

Beban makin berat

Pengendalian TB, menurut Iwan, semakin berat dengan peningkatan kasus HIV/AIDS dan munculnya resistensi terhadap beberapa obat lini pertama (MDR-TB). Infeksi HIV yang melemahkan kekebalan tubuh menyebabkan orang dengan HIV/ AIDS rentan terkena TB. Orang yang terinfeksi HIV berisiko sakit TB sebesar 60 persen.

Mereka yang tanpa HIV berisiko sekitar 10 persen. Tantangan lain ialah bermunculannya kasus MDR-TB atau TB akibat

kuman yang telah kebal terhadap bermacam obat anti-TB. Pengobatan MDR-TB dengan obat lini kedua jauh lebih mahal dan sulit.

Kepala Subdit TB Kementerian Kesehatan Dyah Erti Mustikawati menambahkan, TB menjadi lebih sulit dikendalikan lantaran penyakit tersebut mempunyai dimensi sosial dan ekonomi. ”TB terkait dengan kemiskinan dan kepadatan penduduk. Di daerah yang padat penduduk dan miskin biasanya permukiman rapat dan tidak memenuhi syarat rumah sehat. Kesadaran masyarakat akan kesehatan dan lingkungan juga rendah,” ujarnya.

Ketua Perkumpulan Pasien dan Masyarakat Peduli TB Indonesia atau Pamali TB Indonesia Retnowati mengatakan, tuberkulosis juga terkait dengan perilaku. ”Batuk tanpa menutupi mulut, ketidakpatuhan minum obat, dan kendala mencapai fasilitas kesehatan ikut memengaruhi,” ujarnya.

Iwan mengatakan, Indonesia menggunakan strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse) dalam mengatasi TB. DOTS terdiri dari lima komponen, yaitu komitmen pemerintah mempertahankan kontrol TB, deteksi kasus, pengobatan teratur 6-8 bulan, ketersediaan rutin obat TB, serta sistem laporan untuk pengawasan perkembangan pengobatan dan program. Hari TB Sedunia diperingati dengan kegiatan advokasi, komunikasi, dan mobilisasi sosial, melibatkan semua pihak untuk mendukung komitmen penanggulangan TB. (INE)

Kompas Cetak
Sumber :
Editor: acandra Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!