Selasa, 2 September 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Ancaman Kelumpuhan di Balik Suntik Botox
Rabu, 10 Maret 2010 | 08:59 WIB
Ada banyak cara untuk menghilangkan kerutan di wajah, mulai dari menenggak obat untuk menghambat penuaan, memakai krim antipenuaan (anti-aging) yang banyak di pasar, suntik botox, hingga menjalani operasi plastik.
TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Bagi sebagian orang, menjadi tua memang menakutkan. Makanya, begitu pantulan wajah di cermin memperlihatkan sedikit kerutan di wajah atau leher, mereka merasa resah dan gelisah bukan main. Bahkan, ada di antara mereka yang rela melakukan apa saja untuk menghilangkan kerutan itu.

Sekarang memang tersedia banyak cara untuk menghilangkan kerutan di wajah, mulai dari menenggak obat untuk menghambat penuaan, memakai krim antipenuaan (anti-aging) yang banyak di pasar, suntik botox, hingga menjalani operasi plastik. Semua itu menjadi pilihan.

Namun, tentu, Anda juga paham bahwa berbagai opsi itu punya konsekuensi dan harga masing-masing. Ongkos menghilangkan kerutan di wajah lewat operasi plastik, ambil contoh, lebih mahal ketimbang membeli krim atau menenggak kapsul tertentu.

Begitu juga dengan metode suntik botox yang belakangan ini disukai oleh kebanyakan orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sebelum memilih suntik botox, Anda harus mengerti plus dan minus cara ini. Banyaknya artis papan atas Holywood, seperti Madonna, Liz Hurley, dan Kyle Minoque yang melakukan suntik botox, tidak otomatis bisa menjadi dasar bagi Anda untuk mengikuti jejak mereka.

Suntik botox tak bisa dilakukan sembarangan. ”Apabila dosis dan cara penyuntikannya salah, bisa menyebabkan wajah rusak,” ajar Deby Susanti Vinski, Direktur Perfect Beauty Anti-Aging Clinic, Jakarta.

Asal tahu saja, botox sebenarnya berasal dari bakteri beracun. Bakteri ini bahkan mampu meracuni makanan dalam kaleng. Saat dipakai ke wajah, lewat berbagai teknologi, sifat racunnya dikurangi. Cara kerja suntik botox adalah menyuntikkan bakteri botulinum toxin (botox) ke wajah.

Bakteri ini bisa melemahkan atau menghalangi otot-otot berkontraksi. Walhasil, ketika otot tidak berkontraksi, kulit akan mengencang dan terlihat lebih halus. ”Dengan begitu, berbagai kerutan di wajah pun bisa hilang,” kata Eddy Karta, dokter spesialis kulit dan kelamin Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Otot wajah bisa lumpuh
Eddy mengatakan, sistem kerja botox hanya berlangsung sementara, yakni hanya bekerja dalam waktu empat hingga enam bulan. Setelah itu, otot wajah kembali mengerut. Menurut dia, ketika otot kembali normal, suntik botox bahkan dapat meninggalkan dampak negatif pada wajah.

”Otot wajah terkadang menjadi kaku dan susah berekspresi,” ujarnya.

Oleh sebab itu, orang yang telah disuntik botox biasanya kecanduan. Setelah efek kencang hilang, mereka ingin mengulangnya kembali agar tampak awet muda. ”Biasanya empat bulan, mereka datang lagi untuk suntik botox,” ucap Eddy.

Suntikan yang terus-menerus ini tentu saja bisa menyebabkan penumpukan bakteri botox di wajah. Pemakaian yang berulang juga akan membuat otot-otot wajah menipis. Alhasil, otot malah menjadi gampang kendur.

Parahnya lagi, suntik botox juga bisa menimbulkan efek samping pada otot. Otot bisa menjadi tidak simetris, bahkan menimbulkan kelumpuhan. ”Terkadang juga bisa terjadi salah suntik yang berpotensi menimbulkan kelumpuhan otot,” ungkap Eddy.

Bukan hanya itu, suntik botox juga bisa menimbulkan rasa sakit dan memar ringan di sekitar suntikan. ”Oleh karena itu, lebih baik, jangan melakukan suntik botox di sekitar mulut karena akan mengganggu cara berbicara dan makan,” kata Eddy.
Dampak lainnya, botox juga bisa menurunkan alis mata atau kelopak mata. (Kontan/Adi Wikanto)

KONTAN
Sumber :
Editor: acandra Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!