Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Harapan Hidup Orang Terinfeksi HIV Lebih Panjang
Jumat, 12 Februari 2010 | 07:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Dengan terapi menggunakan obat antiretroviral, kini orang yang terinfeksi virus yang menyebabkan menurunnya kondisi kekebalan tubuh manusia atau HIV dapat hidup lebih panjang dan lebih berkualitas.

Guna meningkatkan kualitas pengelolaan kesehatan, Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia (JOTHI) membuat Program Kesehatan Kita. ”Dengan terapi obat antiretroviral (ARV), kesempatan hidup berkualitas semakin besar,” ujar Koordinator Nasional JOTHI Abdullah Denovan dalam jumpa pers tentang Program Kesehatan Kita, Kamis (11/2/2010).

Dia mencontohkan, dirinya telah hidup 11 tahun dengan HIV. ”Sampai hari ini saya sehat dan beraktivitas seperti orang lain yang tidak terinfeksi. Di Australia, yang ketersediaan obatnya lebih baik serta maju, seorang rekan aktivis positif HIV dapat hidup sehat selama 28 tahun,” ujar Abdullah, yang telah enam tahun menggunakan ARV.

Hal senada diungkapkan Deputi Humas dan Mobilisasi Media JOTHI Andreas Pundung, yang sudah 14 tahun terinfeksi HIV. Andreas mengatakan, orang terinfeksi HIV dapat produktif berkarya di dalam masyarakat.

Abdullah mengatakan, kualitas hidup yang baik itu didukung dengan kepatuhan terapi ARV secara berkesinambungan. Saat ini orang terinfeksi HIV telah memperoleh obat gratis di fasilitas kesehatan yang ditentukan pemerintah. Hanya saja, kesinambungan obatnya masih kerap menjadi masalah.

Dia mengatakan, dalam penanganan HIV/AIDS, peningkatan kualitas hidup orang terinfeksi perlu diperhatikan, termasuk di dalamnya upaya menghapus stigma masyarakat.

Program Kesehatan Kita

Deputi Penguatan Provinsi JOTHI Dini Andriani mengatakan, guna meningkatkan kualitas hidup, JOTHI membuat Program Kesehatan Kita. Program di 11 provinsi itu dengan bantuan Indonesian Partnership Fund (Dana Kemitraan Indonesia) serta Asia Pasific Network of People Living with HIV. Kegiatannya antara lain pembangunan kapasitas, pelatihan, dan pengembangan media sosialisasi. ”Sosialisasi, antara lain, lewat buku saku tentang langkah meningkatkan kualitas hidup, hak orang terinfeksi, dan pendidikan positive health, dignity and prevention. Persoalan lain yang jadi perhatian ialah pendidikan jender dan kesehatan reproduksi. (INE)

Kompas Cetak
Sumber :
Editor: Anna Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!