Jumat, 25 April 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Perdarahan Penyebab Kematian Ibu
Sabtu, 30 Januari 2010 | 07:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Angka Kematian Ibu, salah satu indikator pembangunan kesehatan dasar, masih memprihatinkan. Kematian perempuan usia subur disebabkan masalah terkait kehamilan, persalinan, dan nifas akibat perdarahan.

Hal itu terungkap dalam jumpa pers Program Perencanaan dan Pencegahan Komplikasi terkait persalinan, Jumat (29/1/2010).

Direktur Bina Kesehatan Ibu Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Sri Hermiyanti mengatakan, dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, Angka Kematian Ibu 228 per 100.000 kelahiran hidup. Tahun 2008, 4.692 ibu meninggal pada masa kehamilan, persalinan, dan nifas.

Penyebab langsung kematian ibu terkait kehamilan dan persalinan terutama adalah perdarahan (28 persen). Sebab lain, yaitu eklamsi (24 persen), infeksi (11 persen), partus lama (5 persen), dan abortus (5 persen).

Perdarahan dapat terkait produksi cairan ketuban atau ketuban pecah terlalu dini (sebelum proses persalinan). Adapun perdarahan pascapersalinan, antara lain, karena gangguan pada rahim, pelepasan plasenta, robekan jalan lahir, dan gangguan faktor pembekuan darah. Risiko akan meningkat, antara lain, pada ibu hamil yang menderita anemia dan rahim teregang terlalu besar karena bayi besar.

Salah satu faktor yang memengaruhi kematian ibu ataupun bayi ialah kemampuan dan keterampilan penolong persalinan. Tahun 2008, cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Indonesia mencapai 80,68 persen. Masih ada pertolongan persalinan yang dilakukan dukun bayi dengan menggunakan cara-cara tradisional.

Faktor lain adalah kurangnya pengetahuan dan perilaku masyarakat yang tidak mengenali tanda bahaya sehingga terlambat membawa ibu, bayi, dan anak balita ke fasilitas kesehatan. Sri mengatakan, ada 457 rumah sakit umum daerah di tingkat kabupaten dan kota yang menyediakan transfusi darah.

Kondisi Angka Kematian Bayi juga belum menggembirakan. Saat ini, Angka Kematian Bayi 34 per 1.000 kelahiran hidup dan terjadi stagnasi penurunan dibandingkan dengan data SDKI tahun 2003, yakni 35 per 1.000 kelahiran hidup. Kematian bayi pada penduduk tidak berpendidikan tiga kali lipat lebih besar dibandingkan dengan yang berpendidikan tinggi.

Untuk memperbaiki kondisi itu, Kementerian Kesehatan membuat Program Perencanaan persalinan dan Pencegahan Komplikasi. Para kader dan bidan desa mendata para ibu hamil lalu menempelkan stiker di rumah mereka. (INE)

Kompas Cetak
Sumber :
Editor: acandra Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!