Kamis, 24 April 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Puber Kedua, Hanya pada Lelaki?
Senin, 18 Januari 2010 | 09:06 WIB

KOMPAS.com - Puber kedua adalah masa perkembangan jiwa sehubungan dengan perubahan sikap dan perilaku terkait masa perkembangan jiwa antara kisaran 39/40-45 tahun pada lelaki. Puber kedua juga terjadi pada perempuan.

Biasanya yang banyak diulas masalah keengganan menghadapi masa tua sehingga muncul perilaku yang terkesan analog dengan perilaku remaja usia 17-20 tahun. Perilaku tersebut menyangkut sikap heteroseksual, romantisisme, dan minat psikoseksual kepada perempuan remaja dengan penyertaan berlebihan yang membawa konsekuensi gangguan hubungan perkawinan yang sering berakhir dengan perceraian.

KASUS 1

Perkawinan saya sudah berlangsung 11 tahun. Suami tidak pernah memerhatikan saya. Dia tidak pernah menghargai apa yang saya lakukan. Memang dulu saya tidak pernah masak dan kurang memerhatikan, tetapi sekarang saya sudah belajar dan bisa memasak makanan kesukaannya, menyediakan pakaian dalam di kamar mandi saat dia akan mandi, membuatkan kopi. Tetapi, dia sama sekali tidak pernah bilang terima kasih atau memuji perubahan saya.

Sering saya ke salon dan mengubah tatanan rambut atau pakai baju baru . Tetapi, dia cuek. Saya terkadang ingin dipeluk dan saya mendahului memeluk dari belakang. Namun, responsnya sama sekali tidak menyenangkan. ” Ah, panas, sambil melepas pelukan saya.”

Saya bukan menginginkan seks lebih. Saya hanya ingin sesekali dipuji, dihargai, dipeluk, dan dielus. Demikian Ny K (39).

”Ah, sejak 10 tahun lalu perlakuan saya memang begitu, dan dia tidak pernah protes. Kenapa sekarang tiba-tiba jadi begitu banyak tuntutan.” Demikian K memprotes keluhan istrinya.

KASUS 2

”Saya heran kenapa istri saya jatuh cinta lagi. Padahal, dia sudah menikah hampir 12 tahun dengan saya. Saya menemukan Facebook-nya dengan lelaki berusia beberapa tahun di bawah dia. Dia mengaku itu teman adik kelas saat SMA. Saya menemukan indikasi dia sudah melakukan hubungan intim dengan laki-laki itu. Kata-katanya romantis yang saya rasa erat kaitannya dengan hubungan intim lelaki-perempuan.” Demikian Tn L (46).

”Saya akui saya sering Facebook-kan dengan bekas adik kelas. Awalnya dia mengungkap cerita-cerita lucu saat SMA, akhirnya dia mengatakan kagum dan tertarik kecantikan dan kepandaian saya.

Sebenarnya dia sudah menikah dan punya istri cantik dengan satu anak, tetapi dalam Facebook sering mengirimi saya puisi yang menyatakan kekaguman dan rayuan. Kami tidak pernah ketemu muka dan kami menyadari hubungan kami tidak tertuju pada sesuatu yang serius.

Namun, akhirnya karena perhatian yang dia berikan, saya mulai curhat hubungan saya yang kurang mesra dengan suami. Tetapi jujur, saya tidak pernah melakukannya. Saya hanya merasa ada seseorang yang memperlakukan saya dengan cara berbeda dengan apa yang dilakukan suami dan saya merasa benar-benar tersanjung. Dia juga sering men-support saat saya merasa kurang berhasil dalam kerja di kantor.” Demikian Ny L (43).

Krisis emosional

Dari kedua kasus tersebut, nyata kedua istri tersebut memiliki kebutuhan emosional khusus pada usia awal masa dewasa dan mengalami krisis emosional yang analog dengan krisis yang dihadapi puber kedua lelaki. Jadi, masa puber kedua tidak saja dialami lelaki, tetapi juga perempuan. Hanya umumnya perempuan usia tersebut menghadapi suami yang puber kedua dan juga anak-anak yang biasanya menginjak dewasa sehingga menuntut konsentrasi dan energi psikis penuh. Akibatnya, seolah puber kedua hanya dialami para lelaki-suami.

Kedua perempuan tersebut, rupanya tidak terganggu kesibukan dengan anak sehingga mendapat peluang mengungkap kebutuhan psikologis khusus itu.

Pada masa puber kedua, kebutuhan akan gairah kasih timbal-balik dengan pasangan, romantisme dalam jalinan kasih, dan rasa aman dalam kehidupan perkawinan muncul ke permukaan.

Muncul pula kebutuhan akan penghargaan eksistensi diri yang utuh dalam peran sebagai istri. Umumnya pada usia perkawinan tersebut masalah sosial ekonomi sudah teratasi. Pada kasus 1, kebutuhan Ny K menunjukkan besarnya energi psikologis yang mendorong kebutuhan interaksi psikoseksual yang penuh romantisisme untuk membuat dia merasa benar-benar dihargai keberadaannya secara utuh.

Kenyamanan psikologis

Bila kebutuhan mendasar ini dipenuhi oleh perubahan sikap suami, maka kenyamanan psikologis istri pun membuat jalinan kasih di antara kedua pasangan semakin membaik dan membahagiakan kedua pasangan.

Bagaimana halnya dengan kasus 2? Pada dasarnya Ny L sudah lama mendambakan perlakuan manis dari suami sehingga saat akhirnya berada dalam masa puber kedua kebutuhan akan perlakuan manis, kenyamanan, dan keamanan emosional yang seyogianya dipenuhi pihak suami dari awal perkawinannya ternyata diperoleh dari kehadiran adik kelas. Sanjungan, penghargaan, dan dukungan emosional berlanjut menstimulasi imajinasi erotis serta romantisisme psikoseksual.

Para suami seyogianya menyediakan waktu khusus untuk introspeksi diri, sejauh mana rasa hormat, penghargaan, loyalitas dan sentuhan kasih dan romantisisme suami-istri dalam kehidupan perkawinan selama ini tetap terjaga. Atas dasar hasil introspeksi ini ajaklah istri untuk mendiskusikan relasi yang terjalin selama ini. Kemudian, sepakat memperbaiki sesuai kebutuhan masing-masing pasangan demi keutuhan rumah tangga penuh kasih.

Sawitri Supardi Sadarjoen, Psikolog

Kompas Cetak
Sumber :
Editor: Anna Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!