
JAKARTA, KOMPAS.com - Kanit Reskrim Polsektro Kembangan, Jakarta Barat, Iptu Alexander kepada Kompas.com melalui telepon, Selasa (12/1/2010) mengatakan, jajaran Polsektro Kembangan hingga kini masih mendalami dan masih mencari pelaku penculikan bayi di Puskesmas Kembangan, yang dilakukan pekan lalu.
Sementara Lestari, adik Murtanti, mengatakan, saat ini kakaknya itu sudah mulai tenang. Dikatakan, pihak keluarga berusaha menghibur terus sehingga sedikit demi sedikit keadaan emosinya mulai membaik.
"Kemarin-kemarin memang begitu mendengar suara bayi, kakak saya langsung menangis teringat kembali anaknya yang diculik suster gadungan. Namun sekarang sudah mulai bisa tenang," ucap tante bayi yang diculik saat ditemui di kantor Komnas Perlindungan Anak, Jalan TB Simatupang, Jakarta Timur, Selasa.
Lestari mengatakan, hingga Selasa siang belum ada perkembangan berarti perihal penculikan keponakannya. Kemarin ada dua laporan yang masuk ke Polsektro Kembangan. Laporan pertama mengatakan kalau ada ibu-ibu yang melihat anak bayi dengan ciri-ciri yang sama dengan keponakannya di daerah Permata Buana Kembangan. Namun, setelah ditindaklanjuti ternyata anak bayi yang dimaksud bukanlah keponakannya.
Laporan kedua datang dari seseorang di Menes, Pandeglang, Banten. Mendapat laporan tersebut, Kapolsek Kembangan, Kanit Reskrim bersama timnya, Lestari bersama pihak keluarga langsung menuju lokasi, Senin (11/1/2010) malam.
"Namun, di tengah perjalan orang tersebut menelepon kembali, memberitahukan bahwa bayi yang dilihatnya mempunyai surat lahir yang jelas, ibu yang jelas. Itu berarti bukan keponakan saya," ucap Lestari.
Pihak keluarga sampai saat ini masih menunggu titik terang dari kepolisian untuk bisa segera menemukan bayi yang diculik dari Puskesmas Kembangan sekaligus meringkus pelaku penculikan bayi tersebut.
Ciri-ciri suster gadungan: tinggi badan antara 155 cm dan 160 cm, memakai jilbab, mukanya terdapat bekas jerawat, gemuk, pada saat kejadian memakai baju berlengan panjang warna merah hati.
Bagi masyarakat yang melihat wanita dengan ciri-ciri tersebut di atas, bisa melapor ke polisi. "Jadi, membantu keluarga kami," ujar Lestari penuh harap.