Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Obati Kanker Darah pada Anak Butuh 7 Tahun
Rabu, 6 Januari 2010 | 10:08 WIB
KOMPAS/LASTI KURNIA
Warga Kelurahan Tanah Sereal mengikuti penyuluhan tentang kanker kepada anak lewat kegiatan tanya jawab, pemutaran film pendek, dan hiburan musik di aula sebuah rumah makan di Kecamatan Tambora, Jakarta, Kamis (22/5). Hampir 9.000 anak terjangkit kanker di Indonesia, terutama kanker darah (leukemia) dan kanker mata (retinoblastoma), yang memerlukan pemahaman deteksi dini di tingkat keluarga.
TERKAIT:

KOMPAS.com - Mengobati penyakit kanker darah pada anak-anak tidaklah mudah. Penyakit ini bisa menimbulkan rasa sakit yang hebat, menguras kantong, dan penyembuhannya memakan waktu yang lama. Namun, penderita kanker darah harus dibawa secepat mungkin untuk mendapat penanganan yang baik.

Bila cepat mendapat penanganan medis, peluang penderita kanker darah untuk sembuh bisa mencapai 50%, "Tapi kalau terlambat hanya 25%," ajar Edi Setiawan Tehuteru, dokter spesialis anak Rumah Sakit Kanker Dharmais.

Pengobatan kanker darah membutuhkan waktu lebih lama ketimbang kanker lainnya, yakni bisa memakan waktu hingga tubuh tahun. Selama dua tahun pertama, pengobatan difokuskan untuk membunuh sel kanker. Setelah itu, kondisi anak akan terus dipantau selama lima tahun ke depan. Ini dilakukan untuk memastikan sel kanker sudah tidak ada dalam tubuh.

Cara perawatan ini bisa menggunakan beberapa kali pemeriksaan sumsum tulang dan pemeriksaan darah. "Kemungkinan kambuh di tahun pertama penyembuhan sangat tinggi," kata Edi.

Tak boleh dikekang
Meski mengidap penyakit serius, anak penderita kelainan darah tetap harus diperhatikan tumbuh kembangnya. Banyak orang tua menganggap anak yang menderita kelainan darah bak barang rapuh dan mudah pecah. Alhasil, anak dikekang, tidak boleh melakukan aktivitas ini dan itu karena dianggap membahayakan tubuhnya.

Padahal, demi tumbuh kembangnya, anak-anak ini sebaiknya tetap dibolehkan menjalani kegiatan seperti anak-anak lainnya. Pengekangan yang berlebihan malah akan berdampak buruk bagi anak. "Anak menjadi penakut, tidak percaya diri, dan enggan bergaul," kata dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Edi Setiawan.

Karena itu, sebaiknya anak tetap diizinkan sekolah, berolah raga, atau belajar bangun pagi. Bahkan, di beberapa rumah sakit sudah ada sekolah untuk anak-anak penderita kanker anak usia tertentu. (Sanny Cicilia Simbolon/Kontan)

KONTAN
Sumber :
Editor: acandra Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!