Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Waspadai Serangan Kanker Darah pada Anak
Selasa, 5 Januari 2010 | 09:49 WIB
KOMPAS/LASTI KURNIA
Anak-anak penderita kanker beraksi menjadi Kemo Kasper, tokoh imajinasi yang membantu anak-anak berjuang melawan penyakit dan sel-sel jahat, pada acara "Petualangan Komik dan Foto Bersama Kemo Kasper", bersama Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia, di Tangerang, Selasa (29/7/2008).
TERKAIT:

KOMPAS.com - SEBUT saja namanya Kayla. Anak berusia empat tahun ini tampak ceria dan mudah bergaul dengan orang-orang di sekitarnya. Namun, siapa sangka anak periang ini ternyata mengidap penyakit kanker darah atau leukemia.

Sudah sejak dua tahun terakhir penyakit tersebut menggerogoti tubuhnya. "Leukemia adalah sejenis kanker yang paling banyak diidap anak-anak," kata dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Edi Setiawan Tehuteru.

Kini, kanker memang tak hanya menjadi momok bagi orang dewasa saja, anak-anak pun kini sudah mulai diserang penyakit tersebut. Di Indonesia, terdapat 41.000 kasus kanker pada anak per tahunnya. Dan, tercatat, 10% kasus kematian anak-anak Indonesia disebabkan kanker dan berasal dari keluarga yang tidak mampu.

Di tahun 2008, kasus kanker anak baru di Rumah Sakit Kanker Dharmais
adalah leukimia (kanker darah) sebanyak 16 kasus, retinobtastoma (kanker mata) sebanyak tujuh kasus, dan kanker otak juga tujuh kasus.

Bahayanya, kanker seringkali tidak menunjukkan gejala yang berarti jika masih ada pada stadium awal, sehingga banyak orang yang tidak mengira anggota keluarganya menderita kanker. Padahal, kanker yang terjadi pada anak bisa disembuhkan asal dideteksi lebih dini atau scat stadium awal.

Namun, tidak semua kanker pada anak bisa dicegah atau dideteksi dini. Leukemia, misalnya, hanya bisa dicegah dengan memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif. Selain susah dideteksi, penyebab leukimia pada anak juga belum bisa dipastikan sampai saat ini. Para ahli menduga, faktor genetik, paparan zat kimia, zat pengawet makanan, dan virus menjadi pemicu seorang anak menderita leukemia.

Penyakit leukemia cukup membahayakan kelangsungan hidup sang anak. Soalnya, pada penderita leukemia, sel darah putih meningkat secara abnormal dan mendesak sel darah lain. Alih-alih bekerja sebagai benteng pertahanan penyakit, sel darah putih yang tidak normal ini akan menghancurkan sel darah lainnya.

Kelainan darah
Kelainan sel darah tak hanya menyebabkan penyakit kanker saja, tapi juga bisa menyebabkan penyakit lain seperti talasemia dan hemofilia.

"Berbagai kelainan darah ini bisa menyebabkan anemia atau kurang darah,'' kata dokter spesialis hematologi anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumc (RSCM), Pustika Amalia Wahidiyat.

Pada penderita talasemia, sel darah merah mudah pecah sehingga darah tak bisa melakukan tugasnya dengan baik. "Tanpa pengobatan, penderita talasemia hanya bisa hidup maksimal sampai sepuluh tahun," kata Pustika.

Secara klinis, talasemia dibagi tiga jenis, yaitu mayor, intermedia, dan minor. Tubuh penderita talasemia mayor tidak bisa membentuk sel darah merah sehingga harus mendapatkan transfusi darah seumur hidup. Biasanya, transfusi dilakukan satu sampai dua kali dalam sebulan.

Penderita talasemia intermedia membutuhkan transfusi namun tidak sesering penderita mayor. Sedangkan penderita minor hanya membawa sifat (trait) sehingga tidak mengalami gejala klinis yang berat.

Ada pun hemofilia dikenal sebagai penyakit darah sukar membeku. Pada penderita hemofilia, luka ringan akan menjadi berat karena darah sukar membeku dan akan terns mengucur. Selain darah sulit membeku, penderita hemofilia juga kerap mengalami pendarahan di bawah kulit atau memar jika melakukan pekerjaan berat. (Sanny Cicilia Simbolon/Kontan)

Tanpa pengobatan, penderita talasemia hanya hidup maksimal sampai sepuluh tahun
-- kata Pustika.

KONTAN
Sumber :
Editor: acandra Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!