Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Mengatasi Gizi Buruk ala Sumarjono
Selasa, 5 Januari 2010 | 03:19 WIB
KOMPAS/YOGA PUTRA
Sumarjono

 Oleh I PUTU ARYA SUKMA WIDYA YOGA PUTRA

Untuk membersihkan sampah, batang-batang lidi harus disatukan sebagai sapu. Prinsip kebersamaan itulah yang dicontoh Sumarjono, petugas gizi, dalam melawan gizi buruk di Kulon Progo, kabupaten paling barat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. I Putu Arya Sukma Widya Yoga Putra

Memprihatinkan, itu ucapan Sumarjono tentang masalah gizi buruk di Kulon Progo. Ia mengaku miris saat pertama kali bertugas di Puskesmas Kokap II, Kecamatan Kokap, Kulon Progo, awal 1996. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong penderita gizi buruk yang rata-rata berusia di bawah lima tahun.

”Saat berkeliling Desa Hargowilis dan Hargotirto yang menjadi wilayah cakupan puskesmas itu, saya terkejut. Jumlah anak balita penderita gizi buruk ternyata banyak sekali, mencapai puluhan,” cerita Sumarjono.

Sepulang dari dua desa di lereng perbukitan Menoreh itu, ia didera rasa letih. Selalu terbayang oleh Sumarjono, wajah- wajah penderita gizi buruk yang lesu, kurus, dan menderita.

Dia sampai bermimpi buruk sebab sebagian penderita gizi buruk itu memberi bayangan mengerikan, seperti berkepala besar tetapi tubuhnya kecil. Mereka lebih mirip tengkorak hidup.

Ayah dua anak ini kemudian bertekad menyembuhkan penderita gizi buruk. Ia kembali mendatangi rumah-rumah keluarga miskin di Hargowilis dan Hargotirto. Kali ini ia datang sambil membawa makanan tambahan berupa susu dan biskuit bagi penderita gizi buruk.

Sedikit demi sedikit kondisi kesehatan tubuh mereka tampak membaik, tetapi kurang signifikan. Upayanya selama beberapa tahun itu sekadar menaikkan status gizi buruk ke gizi kurang. Anak balita umumnya rawan turun status. Mereka akan kembali ke gizi buruk jika pemberian makanan tambahan terlambat beberapa hari.

”Anak-anak penderita gizi buruk dan gizi kurang amat rentan terkena penyakit. Kalau sakit, berat tubuh mereka kembali turun, bahkan bisa anjlok lebih dari 5 kilogram,” kata Sumarjono.

Mengubah perilaku

Dia merasa program pemberian makanan tambahan bukan solusi tepat. Di sini diperlukan perubahan sikap dan perilaku warga untuk melawan gizi buruk.

Mulailah Sumarjono menyusun program sosialisasi gizi baru, yang tak sekadar mencakup pemilihan menu dengan gizi seimbang, melainkan juga kebiasaan hidup sehat. Hal sederhana, seperti mencuci tangan sampai menjaga kebersihan lingkungan, adalah beberapa pokok sosialisasi yang dijalankannya.

Namun, tantangan baru muncul. Mengubah perilaku warga bukan perkara mudah seperti membalikkan telapak tangan. Sumarjono memerlukan lebih dari sekadar kata-kata untuk mengubahnya.

”Setelah lama mempelajari karakter warga, saya kemudian tahu mereka bisa berubah asal perubahan itu dilakukan secara bersama-sama, seperti prinsip sapu lidi,” ucapnya.

Sekitar tahun 2008, Sumarjono mendata ulang penderita gizi buruk dan gizi kurang di wilayah kerjanya. Setiap bulan ia rutin mendatangi kader-kader posyandu di setiap pedukuhan untuk meminta hasil penimbangan berat badan anak balita, yang selalu dicatat dalam grafik kartu menuju sehat (KMS).

Solusi curhat

Data itu kemudian dia kelompokkan berdasarkan status gizi dan sebaran wilayah. Baru kemudian Sumarjono memberikan sosialisasi perbaikan gizi di kelompok-kelompok yang terkategori rawan, yakni banyak memiliki anak balita gizi buruk dan tinggal di daerah terpencil.

Kelompok pertama yang dibentuk Sumarjono berlokasi di Pedukuhan Teganing, Hargotirto. Di wilayah itu terdapat 2 anak balita penderita gizi buruk dan 10 anak balita gizi kurang.

Ia kemudian mengumpulkan orangtua penderita gizi buruk dan gizi kurang tersebut. Mereka sepakat menghadiri sosialisasi 10 kali yang lokasinya ditentukan seperti arisan.

Sosialisasi itu lebih mirip sebagai ajang curhat (curahan hati). Alih-alih menjejali peserta dengan materi sosialisasi, Sumarjono lebih senang meminta mereka menceritakan masalah hidup, terutama dalam memenuhi gizi anak.

”Biasanya curhat itu ditanggapi peserta lain sehingga ada solusi bersama. Pada pertemuan berikutnya, selang sepekan kemudian, perkembangan gizi anak balita dan solusinya dievaluasi bersama-sama,” ceritanya.

Hasilnya ternyata menggembirakan. Pada sosialisasi ke-10 tidak ada anak balita yang menderita gizi buruk. Jumlah anak balita berstatus gizi kurang pun berkurang menjadi hanya empat. Orangtua dengan anak balita pun tak sulit lagi menerapkan perilaku hidup sehat.

Metode semacam ini terus diterapkan Sumarjono di sejumlah pedukuhan. Tercatat sudah 13 kelompok dampingan terbentuk. Jumlah anak balita gizi buruk pun terus menurun, dari 20-an anak pada tahun 2008 menjadi 7 anak pada awal 2009 dan 5 anak pada pertengahan Oktober lalu.

Secara tak langsung, metode Sumarjono juga berhasil mengubah pencitraan petugas kesehatan di mata masyarakat pedesaan. Selama ini warga cenderung menghindari dokter, bidan, dan perawat karena takut. Puskesmas juga mereka hindari karena dianggap mahal.

”Kini bisa dilihat, tidak ada warga yang malu-malu kalau bertemu petugas kesehatan. Kami selalu disapa dengan ramah,” katanya.

Sejumlah puskesmas lain di Kulon Progo mulai melirik metode ”kebersamaan” kreasi Sumarjono ini. Atas metodenya itu, dia mendapat anugerah Nutrisionis Teladan Tingkat Kabupaten tahun 2009.

Sumarjono juga berhasil menyabet gelar Nutrisionis Teladan Provinsi DIY untuk tahun yang sama. Di tingkat nasional, dia meraih juara II Tenaga Gizi Teladan dari Departemen Kesehatan.

Tak hanya tanda penghargaan, Sumarjono juga memperoleh sepeda motor dan laptop baru dari upayanya memperbaiki gizi anak balita itu. ”Lumayan, untuk saya pakai berkeliling desa. Soalnya, motor saya mulai rusak karena terus dipakai menjelajahi bukit,” ujarnya bergurau.

Kiprah ahli gizi ini tak lantas berhenti sampai di sini. Sumarjono masih harus berjuang agar Kulon Progo memiliki unit pelayanan khusus untuk mengatasi gizi buruk.

Dia berharap penghargaan pemerintah tak sebatas tanda penghargaan dan hadiah materi, tetapi benar-benar diwujudkan dalam sebuah program nyata bagi masyarakat.

 

SUMARJONO

• Lahir: Sleman, DI Yogyakarta, 14 Maret 1974 • Istri: Padmi Siwi Untari (35) • Anak: - Fawesta Fest Wimarita (6) - Anduarta Hafid Wimari Widyaka (1)

• Pekerjaan: Petugas Gizi Puskesmas Kokap II, Kecamatan Kokap, Kulon Progo, DI Yogyakarta, 1996-kini

• Pendidikan:

- SDN Brengosan I Sleman, 1981-1986

- SMPN Donoharjo Sleman, 1987-1989

-SMAN Donoharjo Sleman, 1990-1993

-Akademi Gizi Yogyakarta, 1994-1996

- Program Studi Gizi Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2004-2006

• Prestasi:

- Juara II Nutrisionis Teladan Kulon Progo, 2008

- Juara I Nutrisionis Teladan Kulon Progo, 2009

- Juara I Nutrisionis Teladan DI Yogyakarta, 2009

- Juara II Tenaga Gizi Teladan Nasional, 2009

 

 

Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!