BANDA ACEH, KOMPAS.com — Minimnya tempat tidur pada Pusat Kesehatan Masyarakat di Kota Calang, Aceh Jaya, membuat perawat kewalahan menangani banyaknya penambang emas yang akan menjalani rawat inap. Dinas Kesehatan Provinsi Aceh belum menetapkan kejadian ini sebagai kejadian luar biasa.
Kepala Puskesmas Kota Calang dr Arjuna ketika dihubungi dari Banda Aceh, Selasa (29/12/2009), mengatakan bahwa puskesmas yang dimilikinya hanya mempunyai delapan tempat tidur.
Empat untuk pasien laki-laki dan empat untuk pasien perempuan. Sekarang pasien yang menjalani rawat inap ada 14 orang. Sebagian terpaksa dibaringkan di ruang instalasi gawat darurat. Menurut Arjuna, jika ada pasien perempuan, maka agak sulit untuk mengaturnya. Beberapa kali pihaknya terpaksa menganjurkan rawat jalan kepada para pasien karena keterbatasan daya tampung puskesmas.
Arjuna mengatakan, sejak bulan November lalu, belasan pekerja tambang di Gunung Ujeuen, Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya, menjalani perawatan di Puskesmas Krueng Sabee, Puskesmas Calang, dan bahkan ada yang dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat. Menurutnya, pasien-pasien itu datang silih berganti.
"Tiga pasien keluar, lima orang masuk dan dirawat. Kalau ada yang terpaksa dirawat inap, mereka tidak boleh kembali ke lokasi penambangan. Kalau masih tergolong ringan, mereka bisa kembali ke lokasi," katanya.
Saat ditanya berapa pasien yang terpapar malaria dan dirujuk ke Meulaboh, Arjuna mengatakan banyak dan mungkin berjumlah puluhan. Warga setempat pun sudah mulai terjangkit.
Dia menjelaskan, beberapa pasien dirujuk ke Meulaboh karena ada kekhawatiran bahwa penyakit itu menyerang ke saraf di pusat saraf otak. Empat di antaranya, kata Arjuna, meninggal dunia dalam perjalanan menuju ke RSUD Meulaboh.
Sulaiman selaku Sekretaris Kecamatan Krueng Sabee, ketika dihubungi, kembali menegaskan harapannya agar pemerintah menutup sementara waktu lokasi penambangan emas itu.
"Apalagi, sebenarnya, Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya sudah memutuskan untuk menutup tambang emas yang semula dikelola PT Indo Raya ini. Namun, tanpa pengawasan yang ketat, para penambang ini kembali lagi. Ditutup waktu ada penambang yang tewas tertimbun setahun lalu," katanya.
Selain kekhawatiran munculnya wabah malaria, Sulaiman mengkhawatirkan dampak penggunaan cairan merkuri untuk membersihkan batu-batu yang mengandung emas tersebut. "Seharusnya pemerintah kabupaten atau provinsi bersikap tegas terhadap kondisi ini," tandasnya.