
GUNUNG KIDUL, KOMPAS.com- Ida Rochmawati, psikiater di RSUD Wonosari, Gunung Kidul, mengaku heran mengapa banyak pihak masih menganggap bunuh diri sebagai kejadian biasa.
"Flu burung dan flu babi yang heboh, tak sampai menelan korban jiwa. Tapi bunuh diri?" katanya dalam sebuah simposium di Balai Desa Salam, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Selasa (15/12).
Simposium ini digelar seusai Deklarasi Patuk, yakni pencanangan tekad agar tahun 2011 nanti Patuk sudah bebas dari perceraian dan bunuh diri.
Ida sendiri adalah penulis buku Ngalu, sebuah buku yang mengulas fenomena bunuh diri di Gunung Kidul. Bunuh diri memang pernah menjadi fenomena sosial yang sangat menonjol di kabupaten yang dulu sangat tandus itu, dan sering menjadi tempat kajian fenomena bunuh diri.
Menurut Ida, bunuh diri bukanlah kejadian biasa dan tidak bisa dibiarkan terus berlanjut. Bunuh diri, katanya, sebenarnya bisa dicegah kalau keluarga dan tetangga mampu mendekati mereka.
Sekitar 80 persen penyebab orang bunuh diri adalah karena depresi dan stres. Oleh karena itu, masyarakat mesti curiga jika ada tetangga dan saudaranya yang mulai menarik diri dari pergaulan, mengurung diri di rumah, dan murung. "Dekatilah mereka, dan sapalah, jangan biarkan dia sendirian," kata Ida.
"Yang perlu dicermati adalah (pelaku) yang pernah mencoba bunuh diri. Mereka mencoba bunuh diri tetapi gagal. Jumlahnya banyak. Saya, di RSUD Wonosari, per bulan, menangani 2-3 orang yang seperti itu. Itu pun belum memasukkan kalkulasi mereka yang hendak bunuh diri, tapi terselamatkan dan kasusnya tak sampai ke rumah sakit atau polisi," ujarnya
Jika mereka sukses bunuh diri, lanjut Ida, angka bunuh diri di Gunung Kidul yang sudah banyak, akan semakin bertambah. Selama 10 tahun terakhir, Gunung Kidul menempati peringkat pertama kasus bunuh diri di Indonesia. Mereka sebenarnya tak 100 persen ingin bunuh diri. Artinya, bunuh diri bisa dicegah.
Sepanjang tahun 2009, hingga pertengahan Desember ini, terjadi 1.045 kasus perceraian dan 30 kasus bunuh diri di Gunung Kidul. Kondisi ini membuat prihatin warga Kecamatan Patuk sehingga mencanangkan Deklarasi Patuk.