Gaya hidup permisif ternyata menjadi bagian kehidupan dari beberapa komunitas di Jawa Tengah. Fenomena itu melahirkan sikap permisif masyarakat terhadap perilaku yang melanggar norma-norma kemasyarakatan. Dari situ, lahir gaya hidup bebas yang identik dengan pergaulan dan seks bebas.
Gaya hidup itulah yang menjadi pemicu tersebarnya penyakit HIV/AIDS. Demikian hasil jajak pendapat Kompas yang secara khusus menyoroti gaya hidup komunitas berisiko HIV/AIDS. Penelitian ini berbasis perkotaan dengan asumsi bahwa masyarakat kota memiliki gaya hidup lebih permisif terhadap seks bebas.
Sebut saja Ratih (nama samaran), pramusaji sebuah kafe ternama di Kota Semarang. Perempuan berusia 23 tahun itu sering menjalin hubungan asmara dengan beberapa tamu kafe. Jalinan asmara tersebut kebanyakan berlangsung hingga ke hubungan seks.
"Biasanya kalau ada tamu yang menarik dan aku tertarik kenapa enggak. Masalah hubungan seks itu hal yang wajar. Kita hidup di tahun berapa sekarang," katanya.
Boleh jadi, Ratih adalah satu dari sekian banyak sosok manusia yang mewakili gaya hidup permisif yang bisa menerima hubungan seks tanpa melalui ikatan perkawinan. Dasarnya hanya suka sama suka. Apa yang dilakoni Ratih bisa juga mewakili cara pandang masyarakat modern yang lebih bebas dalam merasionalisasi hubungan-hubungan yang bersifat pribadi seperti itu.
Dunia hiburan malam
Hasil jajak pendapat Kompas, mayoritas responden mengaku, komunitas yang berhubungan dengan dunia hiburan malam adalah komunitas yang paling permisif gaya hidupnya. Fenomena itu paling banyak diungkap responden yang berdomisili di Solo. Selain dunia hiburan, gaya hidup permisif juga tumbuh di kalangan pelajar dan mahasiswa.
Permisifisme ini dianggap sebagai pemicu utama menyebarnya virus HIV/AIDS karena cenderung mengabaikan keamanan diri dalam menjalankan aktivitas seks. Selain faktor suka dan kepercayaan, kenyamanan dan kenikmatan juga menjadi alasan untuk mengabaikan keamanan diri.
Tono misalnya. Calo bus yang menjadi pelanggan wanita pekerja seks (WPS) di lokalisasi Sunan Kuning Semarang itu saat berhubungan seks enggan memakai kondom dengan alasan kenyamanan. Untuk masalah risiko tertular penyakit, pria 45 tahun itu mengaku memiliki kiat tersendiri.
"Sebelum gituan, saya minum Congyang sampai mabuk. Saya yakin tidak akan terkena penyakit termasuk AIDS karena khasiat yang luar biasa," katanya.
Selain itu, kala memilih wanita, Tono selalu menyeleksi dari penampilan fisik dulu. "Asal orangnya tidak lesu dan kulitnya segar, saya yakin dia sehat," katanya.
Keyakinan seperti ini juga diakui Ratih ketika berhubungan seks. "Tidak memakai kondom tidak masalah, asal saya yakin dengan kebersihan cowoknya," katanya optimistis.
Orang-orang dengan perilaku seperti Tono dan Ratih itu, dalam penilaian responden, sangat berisiko tertular virus HIV/AIDS. Kebiasaan gonta-ganti pasangan tanpa pengaman memiliki peluang yang sangat besar untuk terinfeksi virus. Melalui orang-orang seperti itulah virus mematikan ini menyebar. (Sultani/Budiawan Sidik Arifianto/Litbang Kompas)