Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Indonesia Minim Dokter Spesialis Ibu dan Anak
Jumat, 4 Desember 2009 | 19:29 WIB

NUSA DUA, KOMPAS.com- Dengan penduduk 220 juta, Indonesia termasuk negara yang minim memiliki dokter spesialis kesehatan ibu dan anak.Dari kebutuhan 100.000, saat ini Ikatan Dokter Anak Indonesia mencatat hanya memiliki sekitar 2.400 dokter spesialis ibu dan anak.

Minimnya angka tersebut terbentur beberapa kendala, antara lain tidak diizinkannya perguruan tinggi swasta membuka spesialisasi. Keahlian atau spesialisasi dokter hanya dikeluarkan legal dari perguruan tinggi negeri.

Ketua Continuing Profession Development IDAI Prof Dr dr Sudigdo Sastroasmoro SpA(K), pada NIF-Young Investigator Meeting 2009, di Westin Hotel, Nusa Dua, mengatakan, sulit mengejar jumlah ideal. Sebab, setiap tahun Indonesia hanya maksimal meluluskan sekitar 100 orang saja.

Karena itu, ia berharap kuantitas yang minimal ini bisa lebih meningkatkan kualitas. "Kami mengupayakan rendahnya ketersediaan dokter ibu dan anak tidak menjadikan pesimis dunia kesehatan tersendat untuk maju. Karena dokter bukan segalanya agar kesehatan masyarakat meningkat, termasuk mengurangi harapan terus bergantung dengan kebijakan pemerintah, " katanya.

Selain itu, penyebaran dokter juga belum merata ke pelosok negeri. Apalagi, lanjut Sudigdo, perkembangannya peminat mnjadi dokter anak hampir sekitar 60 persen perempuan yang rata-rata sulit menetap di daerah terpencil dibandingkan dokter laki-laki.

Sementara itu, dokter spesialis pun masih rendah minat penelitiannya. "Padahal penelitian ini penting untuk pengembangan dunia kesehatan. Dokter yang berprofesi menjadi pengajar yang biasanya memiliki minat tinggi meneliti. Hanya saja, rata-rata mereka tidak memiliki biaya cukup dan pemerintah tidak bisa diharapkan membiayai," ujar Sudigdo.

Penulis: AYS   |   Editor: msh Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!