Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
HIV/AIDS Sampai ke Desa-desa
Jumat, 4 Desember 2009 | 18:04 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com- Melonjaknya jumlah temuan pengidap HIV/AIDS di Gunung Kidul dan Kulon Progo sepanjang 2009 jadi alarm tanda bahaya. Penyakit mematikan itu kini merajalela ke pelosok daerah dan siap mengancam siapa saja.

Warga DIY harus waspada. Data Dinas Kesehatan Provinsi DIY menyebutkan temuan jumlah kasus pengidap virus HIV/AIDS (Human Immun odeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome) di provinsi ini, sejak 1993 hingga September 2009, mencapai 839 kasus. Mayoritas pengidap HIV/AIDS merupakan kelompok usia produktif, sekitar 18-45 tahun.

Temuan terbanyak berasal dari Kota Yogyakart a (38,25 persen), luar DIY atau tak diketahui asalnya (23 persen), Sleman (22,40 persen), dan Bantul (11,08 persen). Sementara untuk Gunung Kidul dan Kulon Progo menduduki porsi 1,54 persen dan 3,69 persen.

Kendati kalah dalam kuantitas, kedua wilayah kabu paten itu mengalami kenaikan jumlah kasus HIV/AIDS luar biasa tahun 2009. Di Gunung Kidul setidaknya ditemukan lima kasus baru, sementara di Kulon Progo sekitar 15 kasus.

Jumlah temuan ini naik enam kali lipat dari tahun-tahun lalu yang hanya 1-2 kasus per tahun, tegas Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Daerah Kulon Progo Anugerah Wijayanti pada peringatan Hari AIDS Internasional di Wates, Rabu lalu.

Profil pengidap HIV/AIDS baru ini pun cukup mencengangkan. Lebih dari separuh adalah ibu rumah tangga, bahkan satu pengidap di Kulon Progo masih berusia lima tahun. Anak ini tertular virus HIV dari ibunya yang sudah lebih dulu meninggal.

Kenyataan ini, lanjut Sekretaris KPA Provinsi DIY Riswanto, Jumat (4/12), mematahkan anggapan awam bahwa virus HIV hanya menjangkiti kelompok masyarakat tertentu. "Faktanya, terdapat kelompok lain di luar pengguna narkoba suntik, wanita penjaja seks, waria, dan homoseksual, yang terinfeksi HIV," katanya.

Ke desa-desa

Pengidap HIV/AIDS yang baru terungkap ini pun tidak t inggal di kota, yang menandakan jangkauan virus HIV telah meluas hingga ke desa-desa. Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Gunung Kidul Tri Asmiyanto mengakui beberapa penderita HIV/AIDS di kabupaten itu berasal dari daerah terpencil.

Demi meningkatkan kesejahteraan hidup, banyak warga pelosok yang merantau ke daerah lain. Mobilitas antardaerah ini berisiko tinggi. Tidak sedikit lelaki perantau yang memuaskan seks dengan wanita penjaja seks tanpa menggunakan kondom.

Tanpa disadari, sekembalinya ke kampung halaman, lelaki ini dapat menulari istri dan keturunan-keturunannya. Ada pula warga desa yang tertular HIV/AIDS dari penggunaan jarum tato yang tidak steril. Tato umumnya dilakukan bersama-sama.  "Bagi warga di daerah pinggiran, tato adalah simbol sosial agar seseorang dikatakan gaul atau modern," kata Asmiyanto.

Riswanto mengatakan penularan virus HIV di desa sebenarnya sudah terjadi 10 tahun lalu. Berbeda dari penyakit lain, virus HIV membutuhkan waktu inkubasi yang lama, 5-10 tahun. Pengidap HIV/AIDS umumnya sadar bahwa dirinya telah terinfeksi setelah menderita penyakit lain dan tidak kunjung sehat. Bisa dipahami kenapa mendadak terjadi lonjakan jumlah kasus pengidap HIV/AIDS.

"Satu dasawarsa lalu, di akhir dekade 1990-an, kebiasaan masyarakat desa untuk merantau sudah dimulai, tapi tak ada informasi bagi mereka tentang HIV/AIDS," kata Riswanto.

Penulis: YOP   |   Editor: msh Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!