Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Stigma dan Perlakuan yang Menyakitkan Itu...
Rabu, 2 Desember 2009 | 05:30 WIB
Kompas.com/Kristianto Purnomo
Sebanyak 2.880 lilin dinyalakan pada puncak perayaan One Life Evolution bertepatan pada peringatan Hari AIDS Sedunia di Pacific Place, Jakarta, Selasa (1/12).
TERKAIT:

KOMPAS.com - Beban paling berat yang dirasakan pengidap HIV/AIDS adalah stigma negatif yang dilekatkan kepada mereka. Masyarakat menilai pengidap HIV/AIDS adalah mereka yang berperilaku seks menyimpang dan ”bukan orang baik-baik”.

Stigma itu menyebabkan pengidap HIV/AIDS sering dikucilkan masyarakat dan mendapat perlakuan diskriminatif, bukan cuma oleh masyarakat awam, tetapi juga oleh tenaga medis. Padahal, orang dengan HIV/AIDS bisa disandang siapa saja, termasuk anak-anak dan ibu baik-baik.

Perlakuan diskriminatif itu, misalnya, pernah dirasakan Dini, aktivis Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia (JOTHI). Pada suatu ketika, perempuan muda itu mengalami efek samping obat Nevirapine, salah satu obat antiretroviral yang harus dikonsumsi pengidap HIV/AIDS untuk mempertahankan kualitas hidupnya. Dini pun mencari pertolongan ke unit gawat darurat sebuah rumah sakit di Jakarta. Setelah tenaga kesehatan mengetahui bahwa dia terinfeksi HIV, Dini dipindahkan ke ruang unit gawat darurat bagian kejiwaan.

”Saya kesal dan sedih sekali,” ujar Dini, Selasa (1/12). Selain itu, masih terdapat sejumlah rumah sakit yang tidak mau menerima pasien HIV untuk menjalani rawat inap.

Ketua Ikatan Waria Malang Merlyn Shopjan mengatakan, banyak orang dengan HIV/AIDS meninggal karena perlakuan diskriminatif. ”Walaupun minum obat, kondisi fisiknya akan memburuk jika mentalnya tertekan,” kata Merlyn.

Mengecewakan

Ines dari organisasi Gay, Waria, dan Lelaki Seks dengan Lelaki (GWL) pun masih kecewa dengan pelayanan fasilitas kesehatan yang ada. Para waria, misalnya, menanggung stigma ganda, yakni identitasnya sebagai waria dan orang dengan infeksi HIV/AIDS. ”Akibatnya, banyak yang kemudian enggan ke rumah sakit atau puskesmas, baik untuk berobat bagi yang sudah terinfeksi maupun memeriksakan diri,” ujarnya.

Aditya Wardhana dari UN General Assembly Special Session Forum menambahkan, pemerintah memang telah menyediakan obat gratis bagi orang dengan HIV/AIDS. Namun, layanan kesehatan yang belum ramah terhadap mereka merupakan persoalan besar. Pembinaan rumah sakit dan tenaga kesehatan menjadi sangat penting. Fasilitas kesehatan seharusnya justru menjadi garda depan yang dapat menerima kondisi mereka. ”Begitu mengakui terinfeksi HIV, kami langsung menjadi anak tiri,” ujarnya.

Stigma negatif terhadap orang dengan HIV/AIDS sangat merugikan upaya penanggulangan penyebaran penyakit tersebut. Terlebih lagi stigma terhadap populasi kunci seperti perempuan pekerja seksual, pelanggan perempuan pekerja seksual, waria, lelaki berhubungan seks dengan lelaki, dan pengguna napza suntik.

”Kondisi ini menjadi kontraproduktif dengan berbagai upaya untuk membendung penularan HIV,” ujar Ines.

Tak mengherankan jika terjadi fenomena gunung es pada kasus HIV dan AIDS. Berdasarkan data Departemen Kesehatan, jumlah kumulatif kasus AIDS sampai September 2009 sebanyak 18.442 kasus dan kumulatif pengidap infeksi HIV sebanyak 28.260 kasus sehingga total orang dengan HIV/AIDS mencapai 46.708 jiwa. Namun, Departemen Kesehatan memperkirakan jumlah yang terinfeksi sekitar 300.000 kasus.

OLE untuk gerus stigma

Salah satu upaya menggerus stigma tersebut ialah dengan mengikuti kisah perjalanan hidup orang dengan HIV/AIDS, yang oleh World Vision Indonesia dikemas dalam bentuk ekshibisi interaktif HIV/AIDS One Life Evolution (OLE).

Pengunjung diajak mengikuti lima kisah hidup orang dengan HIV/AIDS dengan latar belakang beragam, mulai dari kisah Retno, seorang ibu rumah tangga, Tasya yang berusia tiga tahun, hingga Ahmad, seorang laki-laki muda.

Seiring dengan narasi kisah hidup yang diperdengarkan lewat earphone, pengunjung memasuki lorong seorang diri dari satu ruang ke ruang lain. Ruang ditata sedemikian rupa sehingga menggambarkan kisah dan fase kehidupan tokoh mulai dari kecil hingga terinfeksi HIV. Di ujung perjalanan, pengunjung disodori berbagai pilihan sikap untuk merespons HIV/AIDS. Terdapat pula berbagai informasi seputar penularan HIV dan pesan untuk menghapus stigma negatif.

National Director World Vision Indonesia Trihadi Saptoadi mengatakan, penghapusan stigma membutuhkan kerja sama berbagai unsur di masyarakat. Kampanye tersebut tidak sekadar memberikan informasi, tetapi menggedor afeksi dan empati masyarakat.

Communications Director World Vision Indonesia Katarina Hardono mengatakan, HIV sudah menjadi urusan bersama karena siapa pun dapat terinfeksi. Pameran OLE yang pertama kalinya di Indonesia itu dilangsungkan bergilir di tiga kota besar yang memiliki angka penularan HIV tertinggi, yaitu Denpasar, Surabaya, dan Jakarta di lima lokasi strategis. Tujuan utamanya antara lain menghapus stigma negatif yang menyakitkan pengidap HIV/AIDS itu....(DIA)

 

Kompas Cetak
Sumber :
Editor: jimbon Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!