Minggu, 20 April 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Kurangi Konsumsi Daging, Cegah Pemanasan Global
Rabu, 25 November 2009 | 10:04 WIB
DHONI SETIAWAN
Nardi (37) memberi minuman sapi perah milik Haji Malik di belakang pusat perkantoran Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (13/8). Di tengah kepungan gedung perkantoran keberadaan mereka masih bertahan, tahun 1970-an kawasan ini menjadi sentra peternak sapi perah.
TERKAIT:

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Di banyak negara maju, topik pembahasan pemanasan global, sudah bergeser ke arah yang lebih berdasarkan fakta, dimana peternakan dan industri daging merupakan salah satu penyebab terbesarnya. Namun di Indonesia, seruan pengurangan laju pemanasan global, agaknya baru dipahami sebatas hemat listrik, hemat air, hemat BBM, dan menggencarkan bersepeda.
  
Ketua pelaksana tim nasional penghematan energi dan air Eddie Widiono, dalam jumpa pers di sela penggalangan relawan untuk hemat energi dan air di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, mengakui bahwa di luar negri, kampanye pencegahan pemanasan global memang banyak mengarah ke imbauan mengurangi konsumsi daging.
  
"Industri peternakan dan konsumsi daging masyarakat Indonesia masih di bawah negara lain. Jadi saya rasa, peternakan dan industri daging di Indonesia bukan porsi terbesar penyumbang pemanasan global," kata Eddie. Dipaparkannya, konsumsi listrik, BBM, dan air berlebih lah yang akan disuarakannya.
   
Namun, secara terpisah, seperti pernah disampaikan oleh Prasasto Satwiko (guru besar Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang juga koordinator Pusat Studi Energi UAJY), Agustinus Madyana Putra (pemerhati lingkungan dan dosen arsitektur UAJY), juga Chindy Tanjung (Koordinator Indonesia Vegetarian Society DIY-Jateng), Indonesia harus mulai berpikir bahwa kerusakan lingkungan dunia adalah tanggungjawab kolektif.
    
"Coba kita lihat kenyataan. Sekarang  promosi santapan berbasis daging amat kencang. Kini, banyak orang kena kolesterol dan darah tinggi, industri daging fastfood tumbuh pesat, plus obesitas (kegemukan), dan anak anak yang lebih suka nugget ketimbang sayur. Apakah kita masih bisa bilang bahwa konsumsi daging di Indonesia rendah. Apakah ada jaminan peternakan di Indonesia lebih bagus pengelolaannya ketimbang peternakan di luar negeri?" ujar Agustinus.      
   
World Watch Institute, dalam Watch Magazine edisi November/Desember 2009 menyebut industri peternakan dunia menyumbang sedikitnya 51 persen gas rumah kaca penyebab pemanasan global. World Watch Institute adalah organisasi riset independen di AS yang berdiri sejak 1974. Organisasi ini dikenal kritis terhadap isu lingkungan dan hanya bersuara berdasarkan fakta. Laporan dari World Watch Insitute banyak digunakan lembaga bergengsi seperti Greenpeace.
   
Dalam menghitung angka 51persen tadi, pijakannya adalah data dari FAO yang diolah dengan memasukkan faktor lain seperti emisi gas metana yang dihasilkan dari sendawa sapi, dan kotoran sapi. Gas metana adalah salah satu gas penyebab pemanasan global. Menurut NASA-divisi penerbangan luar angkasa-kekuatan metana 100 kali lipat ketimbang CO2.
   
Sekitar 16.000 liter air bersih dan sekitar 8 kg biji-bijian harus dihabiskan hanya untuk menghasilkan 1 kg daging. Keseluruhan aktivitas peternakan dan pemrosesan daging, kata Prasasto, amat boros energi. Mulai dari transportasi untuk ternak, listrik untuk menghangatkan peternakan, pendingin, dan alat-alat. Sampai di rumah, daging masuk kulkas. Saat dimasak pun, daging sulit empuk yang artinya boros elpiji/minyak tanah.  
  
"Sehingga aneh, mengapa di Indonesia, seruan pemanasan global dan hemat energi, tak mengangkat tentang dampak peternakan dan konsumsi daging dan produk hewani," papar Chindy yang juga dokter gigi ini. (Lukas Adi Prasetya) 

Editor: wsn Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!