
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Walau sudah banyak program keterampilan dan kursus diberikan kepada waria, masih banyak waria yang tetap menjajakan seks di jalan. Ini menunjukkan etos kerja waria masih rendah. Memperbaiki etos kerja itulah yang paling sulit.
Demikian disampaikan Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat Keluarga Besar Waria Yogyakarta (LSM Kebaya) Mami Vinolia, Kamis (19/11). Waria sebenarnya cukup banyak diberi kursus keterampilan, baik oleh instansi pemerintah maupun pihak swasta.
"Kursus yang diberikan ke waria misalnya menjahit, kerajinan, dan tata boga. Namun, dari 10 waria yang ikut kursus, paling hanya satu orang yang pada akhirnya benar-benar mau terjun usaha. Sembilan waria lain balik lagi ke jalanan," katanya.
Waria belum mempunyai etos kerja yang tinggi. Di jalanan, mereka terbiasa mendapat cukup uang hanya dalam semalaman, plus kenikmatan. Pagi hingga sore waria menghabiskan waktu dengan tidur di kos atau ngerumpi bersama.
"Hasil dari semalaman menjajakan diri jauh lebih banyak ketimbang menekuni usaha. Di jalanan, waria bisa dapat laki-laki, dan itu membuat waria senang. Namun, keadaan itu tak bisa berlangsung terus kan. Umur kan makin tua," kata Mami Vin.
Banyak waria belum sadar bahwa mereka dimanfaatkan lelaki yang menjadi pacarnya. Biasanya si lelaki ini menggerogoti uang waria. Ditambah kebiasaan merokok dan minum minuman keras, pendapatan waria yang sebenarnya cukup untuk hidup itu akhirnya menjadi mepet. "Bisa dibilang waria rata-rata tak bisa menabung,"
Mami Vin memperkirakan, saat ini di DIY terdapat sekitar 300 waria. Dari jumlah itu, baru 228 waria yang tergabung di LSM Kebaya. Dari 300 waria tersebut, sebanyak 65 persen masih menjajakan diri di jalanan. Jumlah waria di DIY akan terus bertambah karena Yogya dianggap sebagai daerah yang lebih bersahabat bagi waria. Karena itu, selalu saja ada waria baru masuk ke DIY.
Salah satu tempat mangkal para waria di Kota Yogyakarta saat malam hari adalah di daerah Badran. Bagi masyarakat, itu cukup mengganggu. Roberta (20), mahasiswi salah satu perguruan swasta, berpendapat bahwa semestinya pemerintah daerah bisa melakukan sesuatu agar para waria tak lagi mangkal di jalanan.