
JAKARTA, KOMPAS.com- Pemerintah telah menurunkan tim investigasi dari berbagai instansi untuk menangai kasus pengobatan massal filariasis atau penyakit kaki gajah di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Tim yang diterjunkan terdiri dari Departemen Kesehatan, WHO, Badan POM, Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Bandung, serta Komite Ahli Pengobatan Filariasis Indonesia.
"Pemerintah tangani serius kejadian tersebut," kata Dirjen P2PL Depkes Prof. dr Tjandar Yoga Aditama, dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (13/11).
Seperti diberitakan, 264 warga Majalaya mendapat penanganan medis usai meminum obat anti Kaki Gajah. Selain itu, satu orang tewas diduga akibat obat tersebut.
Tjandar menjelaskan, tim masih menyelidiki penyebab kematian satu orang warga tersebut. Namun, dari hasil laporan awal yang disampaikan kepada Menkes Endang Sedyaningsih, penyebab kematian adalah koinsiden atau bersamaan dengan penyakit penyerta yang telah diderita sebelumnya.
Berdasarkan data WHO, kata dia, sekitar 496 juta orang di 51 negara telah mendapatkan pengobatan itu untuk memberantas filariasis. "Penyakit ini menular dan menahun yang disebabkan cacing filaria, ditularkan dari berbagi jenis nyamuk. Menyerang saluran dan kelenjar getah bening serta menyebabkan kecacatan seumur hidup," jelas dia.
Di Indonesia, tambah Tjandar, terjadi sebanyak 11.699 kasus di 378 kabupaten/kota. Berdasarkan pemetaan hingga tahun 2008 , prevalensi mikrofilaria di Indonesia mencapai 19 persen atau 40 juta orang. Jika tidak dilakukan pengobatan massal, akan ada 40 juta penderita Kaki Gajah baru.
"Sampai tahun 2008 telah dilakukan pengobatan massal di 97 kabupaten dengan total 12.310.959 jiwa," tambah dia.