Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Konflik Mendekat Menjauh (2)
Senin, 2 November 2009 | 09:25 WIB
shutterstock
Ilustrasi

Tiga minggu lalu kita telah mempelajari konflik menjauh mendekat. Konflik jenis ini sangat berpotensi menimbulkan stres bila tidak segera diselesaikan. Berikut surat dari seorang bapak muda yang juga mengalami konflik tersebut.

”Saya H (36) tinggal di Jakarta, pekerjaan free lance bidang komunikasi dan jaringan listrik. Saya menikah selama enam tahun dan mempunyai anak berusia tiga tahun. Istri saya berusia 27 tahun. Istri dan anak saya lebih sering tinggal di kampung yang berjarak tempuh enam jam dari tempat tinggal saya. Mereka tinggal dengan keluarga saya. Keluarga saya menerima dengan senang hati, terutama bapak dan ibu.

Saya merasa rumah tangga kami tak bahagia, selalu saja ada masalah. Penyebab utamanya ketidakpercayaan istri. Dari awal menikah sampai kini, ia selalu menuduh saya mempunyai wanita lain. Sampai lelah saya menjelaskan saya tidak melakukan apa yang dituduhkan itu, tetapi akhirnya kami terus bertengkar.

Satu hal yang paling konyol adalah saya pernah dituduh berselingkuh dengan adik saya sendiri, bagaimana mungkin? Saya tadinya ingin memanggil adik untuk membuktikan, tetapi saya timbang-timbang. Bila keluarga semua tahu, masalah akan lebih ruwet lagi.

Memang lama-kelamaan keluarga tahu juga kami sering bertengkar. Tak hanya dengan mulut, saya sudah sering dicakar, kepala dijedotkan ke tembok, didorong dari atas kasur ke bawah, dan sebagainya. Jadi, ada KDRT yang pelakunya adalah istri.

Saya sudah tak tahan. Saya ancam saya akan mencari perempuan lain. Dan akhirnya benar, saya bertemu wanita itu. Mula-mula saya iseng saja dengan seorang mahasiswi di Jakarta. Lama-lama saya merasa nyaman dan saya benar-benar jatuh cinta kepadanya. Ia perempuan yang hampir sempurna di mata saya. Hubungan sudah jauh, meski baru tiga bulan. Keluarganya tahu saya sudah beristri. Kami merencanakan menikah jika saya sudah bercerai.

Sebenarnya ada juga kebaikan istri. Dia tak pelit. Siapa pun yang kesulitan uang pasti dibantu. Ia rajin bekerja di rumah, hubungan dengan saudara bisa dekat. Hanya saja ia keras kepala, tak mau mengalah atau minta maaf kalau bersalah. Kalau ada masalah bicaranya keras, tak bisa pelan, tak bisa lemah lembut kepada anak, dan kurang smart.

Bagaimana menghadapi istri? Apa saya harus cerai saja? Bagaimana bila pacar saya menuntut untuk dinikahi juga? Bagaimana nasib anak saya kalau ternyata saya harus berpisah dengan istri? Saya takut bapak saya akan sakit kalau tahu masalah saya. Bapak saya menganggap istri adalah menantu terbaik dan sangat menyayanginya dan kami baru berkabung dengan meninggalnya ibu.”

Konflik mendekat menjauh

Dengan bercerai, di satu pihak H akan merasa bebas dari kekangan istri dan menikah dengan perempuan lain. Di lain pihak, ini yang sangat saya hargai, H juga masih mempertimbangkan kondisi anak, bapak, dan bahkan istri sendiri kalau ia tinggalkan. Anak memang akan menjadi korban pertama bila terjadi perceraian. Juga ayah Anda pasti sangat sedih kehilangan menantu yang sangat dikasihi dan akan menyalahkan Anda sebagai suami yang kurang sabar. Istri juga pasti akan menderita karena tidak siap untuk dicerai.

Penyelesaian

Pengambilan keputusan memang terpulang kembali kepada H yang paling paham akan situasi, perasaan, dan kekuatan diri.

Menurut hemat saya, H benar-benar harus menimbang, berapa orang yang akan menjadi menderita dengan keputusan bercerai. Kemudian, apakah H bisa tetap menjadi ayah yang baik atau memberi ibu yang tepat bagi anak setelah perceraian. Apakah H bisa bertanggung jawab memberi nafkah material kepada mantan istri sampai bila ia nanti menikah lagi. Apakah H bisa menanggulangi rasa bersalah bila ayah menjadi sakit karena perpisahan itu.

Bila H memutuskan mencoba lanjut dengan perkawinan selama ini, saran saya adalah:

1. Usahakan istri dan anak pindah ke kota tempat Anda bekerja dan tinggallah serumah seperti layaknya keluarga lain. Sebulan sekali kalian masih bisa berkunjung ke tempat bapak dan keluarga besar Anda maupun istri. Dengan setiap hari istri bisa mengamati sendiri tindak tanduk Anda, diharapkan kecurigaannya bisa berkurang. Tentunya Anda harus menunjukkan memang dapat menjadi suami yang dapat dipercaya.

2. Usia Anda dan istri terpaut cukup jauh. Diharapkan Anda bisa lebih dewasa, sabar dan menjadi suami yang menenangkan istri. Saya yakin dengan keadaan seperti cerita Anda, ia sebenarnya sangat mencintai Anda. Hanya ada cara atau sikapnya yang salah, yaitu terlalu posesif, cemburuan, dan emosional.

Anda juga sudah salah langkah dengan justru ”membuktikan dan merealisasikan” tuduhan istri. Ini malah memperumit masalah keluarga. Anda harus berubah sebagai suami, terimalah kondisi istri apa adanya.

3. Kalau dia memang tak dapat mengendalikan emosi dan bertindak kasar, ajak berkonsultasi kepada psikolog. Mungkin memang ada ciri-ciri kepribadiannya yang harus dibantu ahli.

4. Selesaikan urusan Anda dengan wanita lain dan keluarganya secara baik-baik. Katakan Anda memang bersalah dan ingin memperbaiki dengan tetap mempertahankan keluarga Anda. Bersikap sportif jauh lebih baik dan melegakan, bukan?

Agustine Dwi Putri, psikolog

Kompas Cetak
Sumber :
Editor: Anna Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!