GARUT, KOMPAS.com — Meski telah menempati ruang rawat inap Rumah Sakit Umum dr Slamet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin (19/10), kondisi kesehatan HA, seorang penderita HIV/AIDS, kian buruk.
"Atau sangat parah kendati bau tak sedap dari sekujur tubuhnya yang terkelupas mulai berkurang," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut dr Hendy Budiman, MKes, Rabu (21/10).
Korban sebelumnya selama lebih dari sepekan hanya menempati sebuah gubuk bekas pos penjagaan penggali pasir berukuran 4 meter persegi dengan kondisi tubuh sangat lemah di Blok Seureh Jawa, Kampung Dukuh, Kelurahan Pananjung, Kecamatan Tarogong Kaler.
"Dia diasingkan pihak keluarga dan warga sekitarnya karena mereka takut tertular jenis penyakit yang dinilainya sangat mengerikan. Apalagi, korban juga divonis mengindap penyakit menular TB paru dan kanker kulit yang mengakibatkan warna kulitnya semakin merah," kata dr Hendy.
Sebelum dirujuk ke RSU dr Slamet, HA sama sekali tak berdaya. Tubuhnya kurus kering. Dia hanya tidur dengan alas karpet plastik di atas papan triplek sederhana.
Bahkan, saat dirawat inap di RSU pun ditolak pasien lainnya yang satu ruangan. Terlebih lagi, nyaris tak satu pun pihak keluarga korban yang mendampingi dan datang untuk ikut merawatnya.
Terpaksa kini HA menempati lorong ruang rawat inap, dengan hanya diberi partisi kain putih. Setiap perawat membersihkan tubuh HA, menimbulkan suasana tak nyaman bagi pasien lain karena korban kerap mengerang kesakitan.
"Adapun upaya penanganan medis yang dilakukan masih pada tahapan observasi mengamati gejala klinisnya, termasuk pembersihan kulit korban yang sedemikian melepuh," ujar Hendy Budiman.
Korban selama ini selain juga dikenal memiliki sikap kewanita-wanitaan, banyak pula bergaul di dunia malam di lokasi wisata Puncak, Bogor, yang kemudian mengantarkannya ke Pulau Batam. Lalu, tiba-tiba diantar oleh orang tak dikenal ke kampung halamannya di Garut dalam kondisi sakit berat.
Warga sekitar, termasuk pihak keluarga, spontan melakukan penolakan atas kehadiran korban tersebut. Mereka mengasingkannya di lembah kaki Gunung Api Guntur karena takut tertular jenis penyakit itu.