Rabu, 22 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Kembali ke Index Topik Pilihan
Kasus Resistensi Obat Berpotensi Naik
Selasa, 20 Oktober 2009 | 13:35 WIB
shutterstock

Makassar, Kompas - Lemahnya pengawasan penanganan pasien tuberkulosis berpotensi menambah jumlah kasus resistensi obat. Kasus resistensi obat tuberkulosis di Indonesia pada 2008 mencapai 6.300 kasus, tersebar sporadis dan belum terpetakan. Dari sekitar 1.300 rumah sakit di Indonesia, baru 34 persen menerapkan standar penanganan pasien tuberkulosis-directly observed treatment.

Hal itu disampaikan Kepala Seksi Standardisasi dan Kemitraan Tuberkulosis Direktorat Penanggulangan Penyakit Tuberkulosis Departemen Kesehatan Nadia Wiweko selaku pembicara pada Simposium Internasional Tuberkulosis dan Dengue II di Makassar, Senin (19/10). Ia menyampaikan, dari 72.000 dokter praktik swasta, baru 5 persen menerapkan directly observed treatment (DOT).

”Pengobatan 6 bulan berturut-turut dengan kombinasi tiga sampai empat obat lini pertama, pengawasan konsumsi obat oleh pasien, dan pendataan penanganan pasien. Banyak rumah sakit hanya memberikan satu jenis obat dan tidak mengawasi konsumsi obat oleh pasien. Hal itu meningkatkan risiko multidrug resistance,” tutur Nadia.

Empat obat kategori obat lini pertama adalah isoniazid, rifampidin, ethambutol, dan pyrazinamid. Resistensi terhadap obat lini pertama akan memperparah kondisi pasien dan menambah biaya pengobatan karena obat lini kedua harganya mahal.

”Harus dikombinasi minimal tiga obat bersamaan selama minimal 6 bulan berturut-turut. Jika gagal, pasien harus menjalani pengobatan lini kedua, kamamycin dan ofloxacin, 2 tahun berturut-turut. Juga ditemukan RS mengombinasi obat lini pertama dengan obat lini kedua tanpa mengawasi konsumsi obat oleh pasien. Hal itu berisiko menimbulkan resistensi terhadap obat lini kedua,” ujar Nadia.

Nadia menjelaskan, 98 persen dari 7.200 puskesmas dan 11 balai pencegahan dan pengobatan penyakit paru-paru di Indonesia menerapkan DOT. ”Dari studi tentang ke mana pasien tuberkulosis mencari pengobatan, 30-40 persen dari 518.000 kasus tuberkulosis di Indonesia berobat ke rumah sakit. Pasien bisa datang dari daerah jauh, berkecenderungan putus obat yang tak teratasi,” katanya.

Peneliti klinis Laboratorium Novartis Institute for Tropical Diseases-Eijkman Institute-Hasanuddin University Clinical Research Initiative (NEHCRI), Muh Nasrum Massi, menyatakan, dari 657 pasien tuberkulosis, didapati pertumbuhan kuman pada 234 pasien. Dari 197 pasien terinfeksi hanya 60,9 persen pasien bisa diobati dengan obat lini pertama. Delapan persen mengalami multidrug resistance. Lebih dari 5 persen lain resisten terhadap 3 jenis obat, bahkan 5 persen mengalami resistensi terhadap keempat obat lini pertama.

Global Tuberculosis Control World Health Organization Report 2009 menyatakan, tingkat kematian setiap tahun 39 penderita per 100.000. (ROW)

Kompas Cetak
Sumber :
Editor: Lusia Kus Anna Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!