
BEKASI, KOMPAS.com - Penderita HIV baru di Kota Bekasi, Jawa Barat sulit terdata, akibat ketertutupan mereka dalam memeriksakan kesehatan, sehingga tidak menyadari telah tertular penyakit tersebut.
"Kita meyakini setiap bulannya ada beberapa penderita HIV baru, akibat tingginya penggunaan narkoba suntik dan maraknya tempat prostitusi, namun sedikit sekali orang berisiko itu memeriksakan kesehatannya," kata Hari Bagianto, pengelola program di Komisi Penanggulangan AIDS kota Bekasi, Sabtu (17/10).
Ia menyatakan, penderita HIV baru banyak yang belum menyadari bahwa mereka sudah tertular dan menjadi orang dengan HIV/AIDS (ODHA), apalagi gejala-gejala penyakit tersebut belum terlihat serta kondisi fisik mereka masih baik.
Di sisi lain, kata dia, ada juga pengguna narkoba suntik yang pasrah dan menganggap mereka sudah tertular penyakit tersebut, namun tidak berupaya untuk memeriksakan diri.
Menurut dia, di Kota Bekasi jumlah penderita HIV/AIDS bertambah 162 orang selama satu tahun terakhir, sehingga jumlah penderita yang tergolong ODHA mencapai 1.169 orang.
"Data itu adalah penderita yang terdata. Kita telah berupaya menekan angka penderita HIV/AIDS dengan berbagai program," katanya.
Sebagai kota besar dengan berbagai problematika sosial, katanya, faktor-faktor penular penyakit HIV/AIDS cukup tinggi dengan tersedianya sarana yang memudahkan penularan penyakit ini yakni lingkungan dan pergaulan.
Ia mengatakan, penderita HIV/AIDS di Kota Bekasi terbanyak merupakan penderita dengan penggunaan jarum (injection drug user), kemudian melalui penyakit menular seksual, serta dari ibu ke anak.
Para penderita HIV/AIDS di daerah ini sampai sekarang masih tetap mendapatkan obat-obatan antiretroviral dari rumah sakit secara gratis. "Obat-obatan tersebut disediakan dalam jumlah yang mencukupi, meski kadangkala pasokan obat datang terlambat hingga mengkhawatirkan bagi penderita," katanya.
Dalam upaya menekan angka penderita HIV/AIDS pihaknya telah meminta kepada pengguna narkoba berhenti mengkonsumsi, apalagi mereka yang menggunakan jarum suntik secara bergantian.
Meski virus HIV/AIDS langsung mati jika terkena udara, menurut dia dengan jarum suntik sering sisa darah menempel di dalam lubang jarum yang kedap udara, hingga bisa ditularkan apabila digunakan bergantian.
Sekretaris KPA Kota Bekasi yang juga Kabag Kessos Pemkot Bekasi Jumhari Lufti mengatakan, perlu dilakukan sosialisasi terus menerus, tidak hanya kepada orang berpotensi terkena AIDS, namun juga di sekolah-sekolah.
Pemerintah daerah, kata dia, sangat peduli dengan berjangkitnya penyakit tersebut, dan berharap agar masyarakat selalu menjaga kesehatannya, serta menghindari faktor pemicu penularan penyakit yang hingga kini belum ditemukan obatnya itu.