Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Parasetamol Kurangi Efektivitas Vaksin
Jumat, 16 Oktober 2009 | 13:21 WIB
shutterstock.com

KOMPAS.com - Para orangtua sebaiknya tidak perlu panik berlebihan bila anak demam setelah diimunisasi. Demam merupakan hal yang normal dan bukan suatu penyakit. Pemberian obat penurun demam seperti parasetamol justru bisa mengurangi efektivitas vaksin.

Demam setelah imunisasi merupakan hal yang normal dan menjadi tanda tubuh sedang membentuk "pasukan" antibodi yang akan memberikan perlindungan bagi anak dari penyakit. Demikian  menurut Dr.Robert T.Chen, spesialis keamanan darah dari Center for Disease Control and Prevention, Amerika Serikat.

"Kecuali anak menderita demam tinggi dan dokter secara spesifik merekomendasikannya, sebaiknya tak perlu menggunakan obat penurun demam setelah vaksinasi, apalagi jika alasannya untuk mencegah demam," kata Chen.

Para peneliti yang diketuai oleh Dr.Roman Prymula dari Universitas Pertahanan Republik Czech, mencoba mengetahui dampak dari parasetamol terhadap vaksinasi. Jenis vaksin yang terima antara lain Hib, difteri, tetanus, batuk rejan, hepatitis B, polio, dan rotavirus (diare).

Para peneliti melakukan dua studi. Yang pertama adalah saat bayi menerima vaksinasi pertama dan kedua saat mereka menerima vaksinasi lanjutan. Objek penelitian ini adalah 459 bayi dan balita yang secara acak diminta untuk mendapat parasetamol setiap enam hingga delapan jam dalam 24 jam setelah diimunisasi. Yang kedua adalah anak tidak mendapatkan parasetamol.

Para peneliti menemukan bahwa bayi yang diberi parasetamol memang sedikit yang menderita demam, tapi sistem antibodi yang dihasilkan juga rendah. Kemungkinan besar aktivitas zat anti peradangan yang terdapat dalam obat penurun demam memicu timbulnya gangguan pada sistem antibodi sehingga antibodi yang dihasilkan menjadi rendah.

"Kecuali ada alasan khusus untuk mengontrol demam, misalnya ada riwayat kejang disertai demam, sebaiknya obat penurun demam tidak rutin diberikan setelah imunisasi," kata Chen.

Ahli penyakit infeksi, Dr March Siegel dari New York University School of Medicine, AS, mengatakan bahwa obat penurun demam akan mengurangi respon antibodi adalah hal yang masuk akal. Lagipula, respon sistem imun adalah respon peradangan. "Bila anak sakit, atasi sakitnya. Tapi bila anak demam tinggi, sebaiknya segera turunkan demam dengan obat penurun demam," katanya.

healthdaynews
Sumber :
Penulis: AN   |   Editor: Anna Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!