Jumat, 18 April 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Indonesia Hadapi Masalah Gizi Ganda
Senin, 5 Oktober 2009 | 21:44 WIB
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Saat ini tersedia pelbagai macam obat untuk mengobati diabetes. Meski demikian, penderita tetap harus melakukan diet dan berolah raga sesuai anjuran dokter.
TERKAIT:

YOGYAKARTA, KOMPAS.com- Permasalahan gizi di Indonesia selama beberapa tahun terakhir menjadi semakin kompleks. Selain kasus gizi buruk yang masih banyak terjadi, saat ini kecenderungan kelebihan gizi atau obesitas menjadi di sejumlah kelompok masyarakat menjadi masalah baru di bidang gizi. Para ahli gizi menyebutnya sebagai masalah gizi ganda.

Ketua Program Studi Gizi dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Emy Huriyati mengatakan, kecenderungan obesitas terjadi di masyarakat perkotaan. "Dari penelitian tahun 2008 di Kota Yogyakarta, 10 persen anak-anak menunjukkan kecenderungan obesitas," tuturnya di Yogyakarta, Senin (5/10), dalam jumpa pers terkait penyelenggaraan seminar internasional masalah gizi yang akan dilaksanakan 15-17 Oktober mendatang.

Penelitian tersebut juga menunjukkan 55,7 persen dari remaja usia 10-15 tahun di Kota Yogyakarta telah menunjukkan gejala metabolik yang disebabkan karena kecenderungan obesitas tersebut. Gejala metabolik ini bisa mengarah pada sejumlah penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, penyakit jantung, dan stroke.

Menurut Emy, banyaknya remaja dan anak-anak yang telah menunjukkan kecenderungan obesitas ini akan berakibat pada pergeseran usia penderita penyakit degeneratif. Penyakit degeneratif akan semakin banyak menyerang penduduk usia sekolah dan usia produktif. Padahal, beberapa dekade lalu obesitas dan penyakit degeneratif hanya diderita pada penduduk berusia lebih dari 50 tahun ke atas.

Di sisi lain, kasus kurang gizi juga masih banyak terjadi. Hal ini terlihat dari Human Development Index (HDI) Indonesia yang berada di urutan 110 dari 117 negara.

Ahli Gizi dari UGM Toto Sudargo menyebutkan, secara umum tingkat kekurangan gizi rata-rata anak sekolah di seluruh Indonesia berkisar antara 35-65 persen. Kondisi ini berakibat pada menurunnya tingkat kepandaian (IQ) anak 10-15 persen.

Kekurangan gizi yang banyak terjadi adalah kekurangan yodium dan protein. Dari penelitian tahun 2003, sebanyak 10-29 persen anak usia sekolah di D IY kekurangan yodium. Kekurangan yodium juga sangat tinggi di daerah pegunungan. "Di Wonosobo, Jawa Tengah, 41 persen anak sekolah kekurangan yodium," katanya.

Untuk mengatasi kekurangan gizi ini, Toto menganjurkan peningkatan konsumsi telur untuk anak-anak. Selain murah, telur tidak menyebabkan reaksi sampingan dengan nilai gizi yang tinggi. Sementara itu, tambahan gizi dalam bentuk susu tidak dianjurkan karena bisa memicu diare pada anak yang tidak biasa mengkonsumsi.

Ketua umum Asosiasi Dietisien Indonesia (Asdi) Martalena Purba menyatakan, banyaknya kasus kekurangan dan kelebihan gizi meruapakan masalah gizi ganda yang perlu dipecahkan bangsa Indonesia. "Kekurangan maupun kelebihan gizi terutama pada anak-anak dan remaja membuat kualitas penduduk Indonesia rendah," ujarnya.

Menurut Martalena, permasalah gizi ini berhubungan erat dengan berbagai masalah sosial lain seperti rendahnya daya beli, budaya, dan minimnya pengetahuan. Untuk mengatasi persoalan ini, peran serta para penyuluh gizi sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat.

Penulis: IRE   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!