
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Dari sekitar 300 waria di DIY saat ini, separuhnya masih keluar malam menjajakan jasa seks. Kenyataan itu adalah pekerjaan rumah yang sulit bagi Keluarga Besar Waria Yogyakarta atau Kebaya. Kebaya tak bisa sendirian, namun perlu bantuan pihak lain.
"Dari 300-an waria, baru 220 orang yang mau tergabung di Kebaya," ujar Mami Vinolia, Koordinator Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kebaya, Senin (7/9), saat pertemuan koordinasi antara LSM Kebaya dengan sejumlah stake holder, di Balai Kota.
Menurut Mami, masalah yang melingkupi waria rumit dan amat kompleks. Pemberdayaan ekonomi bagi waria, seperti yang juga dibahas dalam pertemuan itu, sejatinya isu lama. Banyak program dari pemerintah maupun pihak swasta dijalankan, tapi gagal.
Teman-teman yang pernah mencoba menerjuni kerajinan atau usaha lain, lari lagi ke jalan pada waktu malam. Dengan uang hanya ratusan ribu per bulan, sulit memenuhi kebutuhan hidup. Dengan beredar di jalanan, mereka dapat uang lebih, ujar Mami.
Namun mereka yang berada di jalanan, pengeluaran uangnya juga kencang, sehingga menguras penghasilan. Banyak waria yang boros uang karena membiayai hidup pria yang disayanginya. Padahal si pria, sebenarnya tak pernah mencintai waria.
Lebih baik kaum waria berusaha mandiri, sebisa mungkin. Namun untuk menyadarkan mereka, mengajak mereka untuk instrospeksi diri, ya sangat sulit. Sebab itu menyangkut perasaan. Mami tahu persis karena dulu Mami juga begitu, ujarnya.
Pengeluaran uang yang deras, lanjut Mami, juga karena banyak waria yang masih suka merokok, berjudi, dan minum minuman keras. Pemborosan uang itu, membuat banyak waria yang tak bisa menabung. Masalah-masalah inilah yang terus diurai oleh Kebaya. Waria, sebenarnya punya banyak potensi jika terus diarahkan, misalnya untuk bekerja di salon atau bakat berkesenian.
Nunik Ngesti, yang mewakili Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) DIY mengatakan, banyak program pemberdayaan ekonomi digulirkan Pemprov maupun Pemkab di DIY yang tak mendiskriminasi waria. Namun warialah yang kurang proaktif.
Dikatakan pula oleh Nunik, kaum waria perlu menggali juga potensi-potensi lainnya. Misalnya dalam berkesenian. Saya rasa, restoran dan kafe di Yogya, pasti cukup tertarik jika teman-teman di Kebaya mengisi acara musik di sana, ujarnya.