Kamis, 23 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Pendapat Pakar dan Ahli Gizi Tak Terpadu
Laporan wartawan KOMPAS Lukas Adi Prasetya
Rabu, 2 September 2009 | 22:33 WIB
shutterstock

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Prasasto Satwiko, profesor, Koordinator Bidang Teknologi Pusat Studi Energi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), yang juga guru besar Fakultas Teknik Arsitektur UAJY, kecewa dengan pendapat-pendapat pakar yang sangat jarang berpikir holistik atau terpadu kala menyoroti masalah pangan dan gizi.

"Bukan berarti hanya karena saya vegetarian maka saya menyimpulkan itu. Saya menjadi vegetarian karena saya tahu bahwa masalah pangan dan gizi tak bisa dipandang hanya dari satu dimensi , satu sisi. Ada banyak fakta perlu dilihat dan diresapi secara legowo oleh pakar-pakar itu. Misalnya, sudah banyak laporan dikeluarkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tentang dampak daging dan pelurusan tentang gizi. Apakah laporan-laporan itu sudah mereka baca, atau belum?" kata Prasasto, Rabu malam.

Prasasto tak menyebut siapa pakar yang dimaksud, namun ia mengaku rutin memberi komentar di koran atau situs.

"Boleh kan profesor mengkritik pendapat profesor? Begini maksudnya, saya amati, para ahli pangan banyak yang masih memakai cara pikir kuno, bahwa yang namanya makanan bergizi selalu daging. Itu salah. Sayuran dan buah lah yang lebih komplet kandungan nutrisi dan zat yang diperlukan tubuh. Silahkan membuktikan," katanya.

Apalagi, sebagai ahli nutrisi, lanjut Prasasto, mereka mestinya bisa lebih kreatif mencari cara agar produk nabati semakin lengkap nutrisinya. Jika mereka hanya memikirkan daging dan menggenjot produksinya atau membahas hal tanpa mencatumkan bahwa daging berkontribusi pada kerusakan lingkungan, mereka masih memandang masalah pangan dan gizi dari satu sisi.

Jika pakar pangan dan ahli gizi berpikir bahwa mengatasi gizi tidak peduli bagaimana gizi itu diadakan, itu hal fatal. Akibatnya, mereka hanya berpikir memenuhi protein hewani, tanpa berpikir bahwa justru penekanan pada protein hewani menyebabkan ketimpangan pemerataan protein.

Ini sudah banyak disuarakan oleh PBB. Sepertinya, para ahli nutrisi banyak yang tidak membaca laporan PBB tentang kerusakan lingkungan akibat industri daging, ujarnya.

Selain itu, iklan di TV yang menyesatkan, dibiarkan begitu saja. "Seperti iklan bahwa sosis itu bikin tinggi badan. Itu, luar biasa menyesatkan. Iklan itu sudah dikritik belum?" kata Prasasto.

Jika semua orang dan pakar hanya memikirkan daging-dan melupakan dampaknya, kata Prasasto, maka analoginya menjadi mirip dengan rokok.  

Pemerintah tidak dapat berbuat banyak melarang rokok karena takut petani tembakau sengsara. Kalau industri daging ditekan, pemerintah takut kalau peternak sengsara. Ini logika yang fatal. Sebab, rokok lantas dibiarkan walau kerugian akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok amat banyak. "Daging pun justru digalakkan, tanpa peduli kerusakan lingkungan dan pertambahan penyakit," ucap Prasasto.  

 

 

 

Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!