Senin, 22 Desember 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Temuan Kesehatan dan Ajaran Puasa
Rabu, 2 September 2009 | 10:09 WIB
KOMPAS/DHONI SETIAWAN
Warga memanfaatkan istirahat siangnya di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Rabu (26/8). Selama bulan Ramadhan 1430 H, Masjid terbesar di Indonesia ini ramai dikunjungi oleh warga masyarakat untuk melakukan peribadahan maupun sekedar menunggu datangnya buka puasa.

Quod me nutrit me destruit - Apa saja yang memberiku makan juga menghancurkanku.

(Tulisan tato di bawah pusar bintang film Angelina Jolie)

Ungkapan Latin di atas memang banyak pula digunakan sebagai slogan gerakan pro-anoreksia dan bulimia, yang dianut orang-orang yang punya kelainan kebiasaan makan. Anoreksia ditandai dengan tidak doyan makan sehingga badan pun sangat kurus. Bulimia adalah gejala makan dalam jumlah banyak dalam tempo singkat, tetapi lalu yang bersangkutan tidak ingin makanan yang ia makan membuatnya gemuk. Ia pun lalu membuang lagi makanan tersebut, bisa dengan memuntahkannya atau segera mengeluarkannya dengan obat pencahar (laksatif).

Namun, di luar konteks anoreksia dan bulimia, ungkapan tersebut bisa juga ditempatkan dalam konteks kesadaran bahwa makanan—jika tidak dikelola secara bijaksana—betul-betul akan menghancurkan seseorang. Sekadar catatan, ada orang yang menafsirkan ungkapan Latin di atas dalam konteks lebih luas, dengan mengartikan ”makanan” sebagai serba hal yang terkait dengan kenikmatan duniawi. Namun, dalam kaitan ulasan kali ini, tafsir dibatasi seperti arti harfiahnya.

Laporan kesehatan

Dalam jurnal kedokteran modern, satu hal yang semakin banyak dilaporkan adalah kaitan erat antara kesehatan dan santapan. Satu hal yang ditekankan adalah bahwa semakin banyak makanan yang masuk ke tubuh, semakin besar potensi kehancuran yang akan dialami.

Kebutuhan ideal sebenarnya sudah sering dikemukakan, bahwa untuk mencapai keadaan kesehatan yang baik, dibutuhkan 19 vitamin, mineral, dan nutrien lain. Namun, problem yang dihadapi sekarang ini, seperti dicatat HealthSquare.com, bukan kekurangan, melainkan kelebihan. Bisa disebutkan: terlalu banyak lemak, terlalu banyak garam, terlalu banyak gula, dan lain-lain.

Sebagai akibatnya, satu ciri yang diamati luas adalah kegemukan, di mana berat badan 20 persen melebihi berat ideal. Dengan kegemukan ini pula meningkat risiko untuk terkena serangan jantung, diabetes, stroke, dan sejumlah jenis kanker. Untuk yang terakhir ini, menurut Perhimpunan Kanker Amerika, 50 persen kanker pada wanita dan 30 persen pada pria diduga terkait dengan kebiasaan makan.

Sebagai bangsa yang selama ini dicitrakan sebagai bangsa yang berlebih (affluent), Amerika dilanda kegemukan. Dari 67 juta penduduknya, satu dari empat orang menderita sakit jantung dan punya faktor risiko utama untuk sakit jantung, termasuk kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi.

Solusi untuk problem di atas juga telah luas diketahui, yakni diet sehat berimbang. Namun, untuk ini pun sering kali juga tidak mudah ketika setiap hari ada informasi yang bermacam-macam dan sering kali bertentangan. Meski demikian, sebagai pedoman umum, menu yang mengandung karbohidrat, protein, lemak (mono tak jenuh), kolesterol rendah, dan vitamin dalam jumlah berimbang banyak dianjurkan.

Namun, makan dalam jumlah berlebih, sementara gaya hidup minus olahraga, tampaknya justru banyak dianut penduduk masa kini. Sebagai akibatnya, fenomena kegemukan pun muncul luas. Sebagaimana disinggung dalam Sensus Kesehatan Nasional, prevalensi obesitas tahun 1999 meningkat jauh dibandingkan dengan angka 10 tahun sebelumnya, dan pada tahun 2004 angka ini adalah 9,16 persen pada pria dan 11,02 persen pada perempuan (Kompas, 27/8/2009).

Kearifan puasa

Dalam ceramah Ramadhan untuk karyawan Kompas Gramedia, Ustaz Amir Faishol Fath menjelaskan, ada satu organ dalam tubuh yang amat ”bergembira” pada bulan puasa, dan itu adalah pencernaan. Sistem ini manakala tidak puasa cenderung bekerja berat karena ada saja makanan yang dimasukkan oleh si empunya pencernaan. Dengan pola makan yang ada, memang tidak heran apabila angka kegemukan terus meningkat dari waktu ke waktu.

Dalam perspektif perkembangan kesehatan masyarakat yang tampak makin diwarnai gejala obesitas, yang umumnya merupakan produk makan berlebihan, upaya untuk mengganti haluan adalah menegakkan pengendalian.

Nafsu makan itu baik—karena bagaimana bisa makan tanpa ada selera—tetapi kadarnya benar-benar harus dikontrol. Di sini pula bertemu antara temuan ilmiah dan ajaran kearifan, yakni moderasi, atau secukupnya. Memang dibutuhkan pemahaman lebih tajam menyangkut apa yang disebut sebagai prinsip moderasi ini (Lihat situs Best Syndicates, misalnya).

Namun, untuk makan sehari-hari, pemahaman moderasi dapat diwujudkan dalam kebiasaan ”berhenti makan sebelum kenyang” karena—kembali meminjam pernyataan Ustaz Amir Faishol—yang ideal sebenarnya hanya sepertiga dari perut yang untuk makanan. Sepertiga lainnya untuk minum dan sepertiga lainnya untuk udara.

Seperti disinggung di atas, selain jumlah, faktor yang tidak kalah penting selain moderasi adalah keseimbangan dan keragaman. Keragaman dibutuhkan karena tidak ada satu makanan pun yang dapat memasok semua nutrien yang dibutuhkan tubuh. Keseimbangan dibutuhkan agar setiap kelompok dari lima sehat tersedia untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Kearifan Ramadhan

Tampak bahwa makanan sungguh menjadi isu yang kompleks. Dokter ahli stroke atau ahli jantung memperlihatkan dengan gamblang bagaimana pembuluh darah tersumbat oleh plak yang terbangun sebagai produk hidangan nikmat yang selama ini ditimbun oleh si pemilik tubuh.

Kehidupan menggariskan batas, seperti ungkapan Latin yang dikutip pada awal tulisan ini, dan peranan makanan besar dalam menetapkan batas tersebut lebih dini atau lebih kemudian.

Pada bulan Ramadhan, kearifan yang banyak disampaikan Pak Ustaz tampak sinkron dengan apa yang ditemukan oleh ilmu kesehatan. Selain memberikan kesempatan pada pencernaan untuk ”bersantai”, puasa juga mendorong ditegakkannya moderasi.

Penulis: NINOK LEKSONO

Kompas Cetak
Sumber :
Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!