
JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan, Selasa (25/8), melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A-H1N1 sebanyak 28 orang, dan 1 pasien di antaranya meninggal dunia. Korban meninggal adalah seorang anak dari Jawa Timur dengan faktor risiko pneum onia dan hasil laboratorium H1N1 positif.
"Dengan demikian secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 berjumlah 1.033 orang, 6 orang diantaranya meninggal tersebar di 24 provinsi kata," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, Selasa, dalam siaran pers, di Jakarta.
Penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang perna h bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.
Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan mencuci tangan pakai sabun. Selain itu, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor, sekolah, atau tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari.
Sejauh ini, kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).
Selain itu, surveilans komunitas dilakukan. Jadi, masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. "Kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit sesuai dengan pedoman Badan Kesehatan Dunia (WHO)," kata Tjandra.