Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Psikologi Jawab Fenomena Sosial
Kamis, 20 Agustus 2009 | 21:11 WIB
KOMPAS/ANDY RIZA HIDAYAT
Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Mahasiswa (Alpamas) berunjukrasa di kampusnya, Kamis (20/8) saat acara Dies Natalis USU ke-57 berlangsung. Petugas keamanan membubarkan mereka karena mencoba mendekat Gedung Auditorium USU.

MEDAN, KOMPAS.com - Ilmu psikologi mampu menjawab aneka persoalan sosial. Integritas para psikolog turut membantu manusia mengatasi persoalannya. Tenaga para psikolog dibutuhkan masyarakat yang tidak mampu mengatasi persoalan hidupnya sendiri.

"Psikologi tidak semata-mata psikotes sebagaimana dikenal masyarakat umum. Akan tetapi perannya dapat mengatasi berbagai fenomena psikologis manusia secara individual maupun kelompok," tutur Guru Besar Universitas Sumatera Utara (USU) Prof Dr Irmawati, prikolog, Kamis (20/8) saat menyampaikan orasi ilmiah dalam acara Dies Natalis ke-57 USU.

Dia mengatakan sejumlah persoalan berhasil dijelaskan secara psikologis sesuai hasil penelitian mahasiswa dan peneliti laboratorium psikologi sosial USU. Salah satu di antaranya adalah fenomena gagap budaya yang dialami oleh mahasiswa asing di USU.

Hasil penelitian Frandawati 2009 ini, menemukan para mahasiswa cenderung gagap karena merasa diperlakuk an berbeda dengan mahasiswa Indonesia. Penelitian terhadap 73 mahasiswa asing angkatan 2008 menyebutkan bahwa para mahasiswa ini umumnya tidak menguasai Bahasa Indonesia dengan baik.

Kegagapan budaya lebih banyak dialami oleh mahasiswa perempuan, terutama suku Tionghoa. Hasil penelitian ini, tuturnya, bisa menjadi masukan pimpinan universitas untuk mengembangkan Program Orientasi Berbasis Psikilogi Budaya. Program ini bisa mempercepat proses penyesuaian diri mahasiswa asing sehingga lebih fokus pada proses belajarnya.

"Kondisi akan menguntungkan dua pihak, pihak USU dan mahasiswa asing. Keduanya saling membutuhkan," katanya. Salah satu indikasi kualitas sebuah universitas adalah hadirnya mahasiswa asing. Hal ini tidak hanya berlaku bagi mahasiswa dalam skala kecil. Namun program ini juga diperlukan dalam menyelesaikan persoalan in idlam skala besar.

Irmawati menjelaskan, psikologi juga bisa menjawab fenomena sosial lain seperti konflik sosial, ujian nasional, mutilasi, dan pemutusan hubungan kerja. Semua persoalan ini bisa diurai dan didekat dengan menggunakan teori yang berbeda.

Hadir dalam Dies Natalis ini Rektor USU Chairuddin P Lubis, Gubernur Sumut Syamsul A rifin, dan Kepala Polda Sumut Inspektur Jenderal Badrodin Haiti.

Pada saat acara berlangsung sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Mahasiswa USU yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Mahasiswa (Alpamas) berunjuk rasa di luar Gedung Auditorium USU. Petugas keamanan membubarkan mereka karena mencoba mendekat Gedung. Mahasiswa menuntut terciptanya kampus yang demokratis dan berpihak kepada rakyat. Mereka meminta agar pemerintah mencabut Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan.

Mahasiswa berniat bertemu dengan pimpinan USU yang sedang mengikuti proses Dies Natalis di Gedung Auditorium. Namun tidak ada pejabat yang menemui mereka. Ucok Silalahi mengatakan, aksinya tidak berniat untuk mengacaukan acara. "Kami hanya ingin agar pihak rektorat menemui kami," katanya.

Penulis: NDY   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!