Kamis, 31 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Dokter Wong VS Tukang Gigi
Senin, 17 Agustus 2009 | 22:17 WIB
Kompas, Priyombodo

KOMPAS.com - Insiden itu menjadi awal hubungan baik drg.Wong dengan para tukang gigi.  "Saya bilang, kita tidak akan saling mematikan.  Mereka tetap bisa praktik, tapi pasang gigi palsu saja.  Kalau cabut dan tambal gigi serta perawatan gigi yang lain, biar kami, dokter gigi yang melakukan karena butuh pengetahuan dan keahlian khusus untuk melakukan itu," katanya.
    
Sebagian tukang gigi memahami alasan itu dan tidak lagi menganggap dokter gigi sebagai saingan atau musuh. Jadi mulai saat itu, tukang gigi tidak lagi menghambat upaya drg.Wong untuk memperbaiki kesehatan gigi masyarakat.  
    
Tetapi, masalah lain yang juga tidak mudah diatasi masih ada, yakni budaya masyarakat setempat menggunakan gigi palsu.
    
"Di sana orang sangat suka memakai gigi palsu.  Menurut mereka, ’tak lawa’ atau tidak cantik kalau tidak pakai gigi palsu.  Padahal tanpa perawatan yang baik, pemakaian gigi palsu bisa merusak gusi," katanya.
    
Pelan-pelan, dia berusaha mengubah kebiasaan buruk itu. Ia mempelajari adat dan bahasa masyarakat setempat supaya bisa masuk ke dalam kehidupan mereka serta menyelipkan pesan-pesan kesehatan gigi melalui interaksi sosial dengan masyarakat.
    
"Mula-mula saya kumpulkan beberapa orang yang pakai gigi palsu dan tidak. Saya minta mereka mencium bau mulut mereka supaya mereka tahu, gigi palsu membuat mulut berbau tidak enak. Saya tanya kepada mereka, apakah gusinya sering berdarah dan mereka jawab, iya," katanya.
    
Ia juga menjelaskan dampak pemakaian gigi palsu tanpa perawatan memadai terhadap kesehatan gusi.  "Soalnya, orang sana pakai gigi palsu terus menerus siang dan malam.  Tidak pernah dilepas dan dirawat. Jadi gusinya hancur," katanya.
    
Metode yang agak ekstrim pun pernah dia coba untuk mengubah pandangan masyarakat tentang gigi palsu. Dia meminta pengguna gigi palsu mengunyah permen karet murahan yang lengket di gigi kalau dikunyah.
     
"Lalu saya tanya, mana lebih enak kalau begini? Pakai gigi palsu atau gigi asli. Saya juga tanya kepada orang yang pakai gigi palsu, kalau sedang batuk takut gigi palsunya lepas atau tidak," katanya.
    
Selain itu, dia juga secara berkala melakukan penyuluhan kesehatan gigi kepada masyarakat dan menanamkan kebiasaan merawat gigi secara baik kepada siswa sekolah dasar melalui kegiatan Unit Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS).
     
"Kepada mereka saya bilang, kehilangan satu gigi pun itu kamu sudah cacat dan secantik apa pun gigi palsu, tak akan bisa menggantikan gigi pemberian Tuhan," katanya.
    
Tindakan drg.Wong memang tidak serta-merta dapat mengubah kebiasaan masyarakat setempat, tapi setidaknya  membuat mereka melihat sisi lain dari kebiasaan mereka.   

"Butuh waktu lama untuk itu.  Tapi setidaknya, setelah tiga tahun saya bertugas di sana, pola kebiasaan masyarakat setempat sedikit berubah.  Waktu saya selesai bertugas, dokter gigi pengganti saya bilang orang yang periksa dan tambal gigi di Puskesmas lumayan banyak," tuturnya.

Buah Manis  
Selama tiga tahun bekerja di Pulau Serasan, drg.Wong hanya bisa dua kali pulang ke kampungnya di Medan, karena dia tidak punya ongkos yang ketika itu sekitar Rp72 ribu sekali jalan.

"Gaji saya waktu itu Rp1.047.000 per bulan, tapi tidak bisa langsung diambil saat dibutuhkan karena dikirimnya ke Tanjung Pinang," katanya.

Pendapatan dari praktik pun tidak bisa diandalkan. Ongkos cabut gigi dan periksa gigi di sana ketika itu tidaklah besar.  

"Bekerja di sana kita harus betul-betul ikhlas. Ongkos cabut satu gigi cuma Rp3.000, itu pun kadang dibayar dengan mangga atau ikan.  Jadi mengumpulkan uang Rp72 ribu untuk pulang saja sangat sulit," katanya.
    
Namun hal itu tidak membuat drg.Wong merasa susah.  Dia menikmati pekerjaannya dan senang bisa menjadi bagian dari masyarakat setempat.
    
Dan kerja kerasnya mendapat balasan dari Tuhan. Setelah tiga tahun bekerja di Pulau Serasan, dia diangkat menjadi pegawai negeri sipil dan ditempatkan di Puskesmas Sekupang, Batam, sampai sekarang.  Dia juga sudah punya klinik gigi sendiri di Batam.
    
Pemerintah pun melihat dan menghargai ketulusan pengabdiannya.Sabtu malam (16/8), Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyerahkan penghargaan sebagai tenaga kesehatan teladan kepada drg.Wong dan 131 tenaga kesehatan lain dari seluruh Indonesia.
    
Dia mendapatkan sebuah piagam penghargaan, satu unit sepeda motor dan satu unit komputer jinjing beserta alat pencetaknya.
    
Dia juga mengikuti beberapa acara kenegaraan yang dilakukan untuk memeringati kemerdekaan Indonesia, termasuk bertemu dan berdialog dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Kesehatan dan anggota parlemen.
    
Tetapi semua itu tidak lantas membuatnya berpuas diri, justru memantapkan langkahnya untuk terus mengabdi dengan ilmu dan keahlian yang dia miliki.
    
"Saya yakin, ilmu yang sudah saya pelajari tidak salah. Saya berharap ilmu yang saya miliki bermanfaat untuk kebaikan masyarakat," demikian drg.Tohap Wong.

ANT
Sumber :
Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!