Kamis, 24 April 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Risiko Kerja Malam Hari
Selasa, 11 Agustus 2009 | 11:00 WIB
shutterstock.com

KOMPAS.com - Normalnya orang bekerja sejak pagi hingga petang. Malam hari adalah waktu ideal untuk merebahkan raga dan pikiran. Namun, sekarang di banyak kota besar, malam juga cukup benderang untuk beraktivitas.

Selain sekadar hang out atau clubbing, ada juga yang memang harus menekuni profesi, seperti dokter, perawat, penyiar radio, atau wartawan.

"Saya sering kebagian kerja malam di Jumat malam," kata Oky Andrianto, seorang penyiar radio. Awalnya ia susah mengatur tidur. Saat pulang seusai siaran malam, badan biasanya pasti pegal. "Perlu waktu berjam-jam untuk membayar tidur. Dan saat bangun, kepala pusing dan badan terasa lemas," tambahnya.

Oky sempat kena tifus, akibat jam tidurnya tak beraturan. Namun, lama kelamaan tubuhnya dapat menyesuaikan diri. Kerja malam hari memang memiliki risiko gangguan kesehatan. Apalagi sejumlah kecelakaan seringkali terjadi menjelang pagi hari, saat dorongan untuk tidur teramat kuat.

"Mengendara saat mengantuk jauh lebih berbahaya dibandingkan mengendara sambil mabuk. Karena biasanya kita menganggap enteng rasa kantuk," tutur dokter Andreas Prasadja, RPSGT, ahli tidur dari Sleep Disorder Clinic, RS Mitra Kemayoran Jakarta.

Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan bekerja. Di waktu-waktu menjelang subuh, biasanya kita sedang amat mengantuk, sehingga kemampuan menganalisis data ataupun monitoring akan terasa sangat berat.

Karenanya, jika memungkinkan, pada mereka yang bekerja malam harus diselingi tidur sejenak, guna mempertahankan kemampuan kerja. Waktu tak bisa diganti karena pola tidur malam dan siang hari amat berbeda. Meski demikian, sangat disarankan untuk segera tidur setelah selesai menjalankan kerja malam.

Ditambahkan oleh Dr Andreas, kerja gilir (shift) harus diatur dengan baik. Idealnya, kerja gilir per dua hari searah jarum jam, misalkan dengan siklus dua hari masuk pagi, lalu dua hari masuk siang, dua haris masuk malam, dan dua hari libur.

Mereka yang mengalami kerja gilir, menurut Dr Andreas, rawan menderita gangguan tidur. Itu sebabnya mereka sebaiknya langsung tidur ketika pulang kerja, dengan menjaga suasana kamar tetap gelap dan sunyi.

Waktunya hormon kerja

Sebenarnya waktu tidur dari malam hari tidak bisa digantikan menjadi pagi atau siang hari. Itu karena irama sirkadian kita tidak bisa dibohongi. Walaupun kamar sudah digelapkan, tubuh kita tetap mengenali waktu sebagai siang hari.

Tidur diperlukan, terutama malam hari karena di saat tidur banyak hormon yang bekerja. Selain hormon melatonin, hormon yang hanya diproduksi saat gelap, di tahap tidur juga dikeluarkan hormon pertumbuhan.

Hormon ini berperan dalam proses peremajaan sel. Itu sebabnya jika kualitas tidur tidak baik, orang akan kelihatan cepat tua.

International Classification of Sleep Disorder menyebutkan, pekerja shift berisiko lebih tinggi untuk menderita penyakit kardiovaskular dan pencernaan. Bekerja di luar jam normal juga menghilangkan waktu bersosialisasi, sehingga memengaruhi kesehatan jiwa seseorang.

Para pekerja gilir malam juga berisiko mengalami kanker. Pada saat tidur, kadar sel-sel pembunuh alami dalam darah sangat tinggi. Ini adalah sel penguat daya tahan tubuh, termasuk dari serangan sel tumor atau kanker. Karena itu, tidurlah kalau sudah malam. Betah melek cuma mengundang penyakit.

(GHS/Diana Yunita Sari)

Tabloid Gaya Hidup Sehat
Sumber :
Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!