
JAKARTA, KOMPAS.com - Begitu dinyatakan menderita kanker, ibaratnya satu kaki sudah berada di kuburan. Begitulah para pasien kanker mengibaratkan penyakit yang jadi momok menakutkan itu. Tak heran bila berbagai upaya penyembuhan pun dilakukan penderita. Termasuk di antaranya berpantang makanan.
Demikian pula yang dilakukan oleh Nia Lindawati (43), penderita kanker serviks atau leher rahim yang jadi pasien rawat inap di RSCM Jakarta. "Saya sering dengar dari orang kalau pantang makanan bisa sembuh. Makanya saya ikuti." kata wanita yang sedang menunggu operasi pengangkatan sel tumor di tubuhnya itu.
Padahal, menurut dr.Melissa S.Luwia, MHA, Ketua II- Pelayanan Sosial Yayasan Kanker Indonesia, seseorang yang menderita kanker justru butuh banyak nutrisi. "Justru tidak boleh berpantang karena tubuh membutuhkan protein nabati dan hewani serta makanan yang berserat," katanya dalam acara kunjungan pasien kanker serviks di RSCM, Jumat (24/7).
Seturut dengan anjuran dokter Melisa, Martini, salah satu survivor kanker serviks menganjurkan agar pasien kanker serviks tidak melakukan pantang makanan. "Tubuh perlu nutrisi untuk operasi. Makanya jangan pantang makanan, kecuali kalau sedang batuk jangan makan gorengan, karena dapat memicu radang." ungkap Martini, anggota dari Perempuan Peduli Kanker Serviks itu.
Menurut dia, pantang makanan sebaiknya dilakukan setelah operasi. Pantang yang ia maksud adalah penerapan pola hidup sehat denagn makan makanan sehat. "Kanker serviks sama sekali tidak ada kaitan dengan makanan. Karena kanker ini berasal dari virus. Berbeda dengan kanker usus yang berhubungan dengan makanan," tutur dokter Melissa.