Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Stres dan Polusi Udara Picu Asma
Rabu, 22 Juli 2009 | 13:55 WIB

KOMPAS.com - Banyak sekali faktor risiko yang diduga ikut berperan terhadap timbulnya penyakit asma pada anak. Para ahli mengatakan pencemaran udara yang melewati ambang batas menjadi salah satu penyebab. Namun bila ditambahkan dengan faktor stres orangtua, risikonya menjadi semakin besar.

Dari suatu penelitian yang baru-baru ini dilakukan di Kanada diketahui anak yang saat masih di kandungan sering terpapar faktor pencetus asma (polusi, asap rokok) ditambah orangtua yang stres, lebih beresiko menderita asma.

"Ada kaitan antara polusi udara dan asma, dan risikonya makin meningkat bila sang ibu mengalami stres," kata Ketan Shankardass, peneliti dari Centre for Research on Inner City Health, Toronto, Kanada.

Memang penyebab pasti penyakit asma belum diketahui, namun Shankardass berpendapat hasil penelitiannya berkontribusi terhadap pemahaman terhadap penyakit ini.

Dalam risetnya, Shankardass dan timnya mengumpulkan data 2.497 anak di California Selatan. Responden berusia 5-9 tahun dan tidak punya riwayat asma atau mengi saat studi dimulai. Setelah tiga tahun, tim peneliti menelusuri apakah anak-anak itu menderita asma atau tidak.

Selain itu, para orangtua responden juga diminta mengisi kuisioner untuk mengukur kadar stres mereka. Data juga dilengkapi dengan paparan polusi udara terhadap anak-anak atau asap rokok saat si ibu sedang hamil.

Secara umum, stres atau status ekonomi tidak berpengaruh terhadap timbulnya asma. Tapi bila faktor itu dikombinasi dengan kondisi emosi orangtua saat mengandung, risiko munculnya asma menjadi tinggi, bila dibandingkan dengan anak yang terpapar polusi atau asap rokok tapi orangtuanya tidak stres.

Dr.Clifford Bassett, direktur medis Allergy and Asthma Care di New York, AS, mengatakan tidak terkejut bahwa stres meningkatkan risiko asma. "Stres berpengaruh terhadap kekebalan tubuh. Sudah jelas ada hubungan antara stres, asap rokok dan pencemaran udara," katanya.

Prevalensi asma di dunia terus bertambah setiap tahun, demikian juga di Indonesia. Asma menimbulkan gangguan kualitas hidup karena gejala yang ditimbulkan berupa sesak napas, batuk, maupun mengi. Penderita jadi kurang tidur atau terganggu aktivitasnya. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan.

healthdaynews
Sumber :
Penulis: AN   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!