TEGAL, KOMPAS.com - Kesulitan air bersih mulai terjadi di wilayah Kota Tegal, seperti dialami ratusan warga di Kelurahan Kalinyamat Kulon, Kecamatan Margadana, Kota Tegal. Sebagian sumur warga mengering dan berbau, sejak sekitar dua bulan lalu. Untuk memasak, mandi, dan mencuci, warga terpaksa membeli air dari pedagang keliling.
Tokoh masyarakat Kelurahan Kalinyamat Kulon, Kecamatan Margadana, Asmawi, Senin (13/7) mengatakan, saat ini hampir semua sumur dangkal yang dimiliki warga tidak dapat dimanfaatkan. Sebagian sumur mengering, sebagian lainnya masih mengeluarkan air, tetapi berbau.
Dari pantauan, beberapa dasar sumur terlihat dengan jelas dari bibir sumur, karena sudah tidak lagi mengelurakan. Sebagian lainnya mengeluarkan air yang berbau bacin dan berwarna kekuning-kuningan.
Menurut Asmawi, selama ini hampir semua warga memanfaatkan air sumur dangkal untuk mandi dan mencuci. Kedalaman air sumur tersebut berkisar antara empat hingga tujuh meter, sehingga mudah mengering pada musim kemarau.
Ia mengatakan, sebagian warga memang memiliki sumur artetis, dengan kedalaman antara 140 hingga 170 meter. Namun jumlahnya sangat sedikit, sehingga tetap tidak mampu memenuhi kebutuhan air warga di wilayah tersebut.
Cayem (52), warga Kelurahan Kalinyamat Kulon mengatakan, kesulitan air selalu dialami setiap musim kemarau. Saat ini, satu-satunya sumur milik keluarganya kering dan tidak mengeluarkan air. "Padahal, sekitar 12 orang menggantungkan kebutuhan mandi dan mencuci dari sumur tersebut. Kalau untuk minum, biasanya beli air ledeng (PDAM) sebanyak dua jeriken per hari. Harganya Rp 1.000 per jeriken," ujarnya.
Membeli Air
Sejak sumurnya mengering, ia terpaksa membeli air untuk kebutuhan mandi dan mencuci, sehingga biaya yang dikeluarkan lebih banyak. Saat ini, ia terpaksa membeli enam hingga 10 jerigen air bersih per hari. Padahal selama musim kemarau, penghasilannya sebag ai buruh tani menurun. Hal itu akibat mengeringnya sawah yang ada di wilayah tersebut.
Banyak yang kering, ada juga yang banger (bacin), kata Rohayah (26), warga lainnya. Saat ini, ia juga terpaksa membeli air untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Warga tidak dapat berlangganan air secara langsung dari PDAM karena saluran air ke wilayah tersebut tidak tersedia.
Sumur yang menghasilkan air bacin seperti milik Casmurah (52), warga Kalinyamat Kulon lainnya. Bau air tersebut hampir sama dengan bau air got, dan mulai muncul sejak memasuki musim kemarau. Meskipun demikian, Casmurah mengaku masih memanfaatkan air tersebut untuk mencuci baju. "Nanti dibilasnya pakai air bersih," katanya.
Karena tidak memiliki cukup uang, ia terpaksa meminta air sumur artetis dari warga lain. Untuk itu, Casmurah mengaku harus mengangkut sendiri air dalam jerigen, dari rumah tetangganya.
Saat ini, warga sangat berharap agar pemerintah memasok air bersih secara gratis, selama musim kemarau. Selain itu menurut Asmawi, warga juga meminta agar pemerintah membantu membuatkan sumur artetis berukuran besar atau mengupayakan masuknya jaringan air PDAM ke wilayah tersebut.
Kepala Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Tegal, Sugeng Suwaryo mengatakan, pemerintah sedang membahas masalah air bersih dan mendata kebutuhan warga. Hingga saat ini, belum ada warga yang mengajukan bantuan permohonan air bersih. Menurut dia, sekitar 11 dari 27 kelurahan di Kota Tegal rawan kesulitan air bersih, pada musim kemarau.