
JAKARTA, KOMPAS.com — Palang Merah Indonesia bersama dengan Komite Nasional Penanggulangan Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) didukung dengan Palang Merah Amerika dan sejumlah organisasi nonpemerintah menggelar lokakarya, Kamis (2/7) di Hotel Bidakara, Jakarta. Acara itu bertujuan mengoordinasi organisasi nonpemerintah dalam merespons pandemi influenza.
Saat ini pandemi influenza disebabkan oleh virus influenza baru A-H1N1 dan telah ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah memasuki kondisi fase 6 dunia, artinya penyebaran virus ini bergerak sangat cepat dan meluas ke sejumlah benua. Data 29 Juni 2009 WHO mencatat, sebanyak 70.893 kasus dengan 311 kematian yang di antaranya terdapat 8 kasus telah terkonfirmasi di Indonesia.
Menurut Ketua Umum PMI Marie Muhammad, Indonesia tidak dapat menghindari pandemi flu burung yang menyerang Indonesia. "Kita bekerja dengan waktu, kita harus melakukan tindakan nyata agar jangan kita meningkatkan risiko," ujarnya menjelaskan, dalam siaran pers.
Marie juga menekankan pentingnya melakukan diseminasi informasi kepada masyarakat umum sampai tingkat paling bawah. Penerapan pola hidup sehat kepada masyarakat sampai tingkat bawah merupakan tindakan nyata dan efektif dengan tanpa membuat mereka panik, pendekatan yang juga bisa dilakukan adalah pendekatan kultural dengan mendiseminasikan melalui bahasa yang dimengerti kalangan bawah, ujarnya.
Ketua Pelaksana Harian Komnas FBPI Bayu Krisnamurthi menambahkan, Indonesia harus bisa hidup dengan H1N1 secara sehat. Virus ini belum dapat dimusnahkan. Jadi, kita harus bisa melakukan pola hidup sehat dengan sanitasi yang baik dan higienis, serta menerapkan etiket flu, kata dia menegaskan.
Hingga saat ini penyebaran virus itu tidak dapat diperkirakan secara pasti. Hal ini menjadi perhatian serius karena bisa menjadi sangat berbahaya pada manusia jika penanganannya tidak dilakukan secara serius dan berkesinambungan. Dampak yang terjadi di negara-negara dengan kasus tertinggi adalah mereka mengalami kerugian sangat besar di bidang ekonomi, sosial, politik, pariwisata, dan bidang lain. Bayangkan jika hal ini juga dialami Indonesia. Tentunya hal ini harus kita cegah bersama, ujarnya.
Atas dasar itu, pemerintah melakukan sejumlah langkah strategis yaitu penguatan pengawasan di pintu-pintu masuk bandara internasional dan pelabuhan, mengintensifkan komunikasi ke masyarakat dan dunia usaha, serta langkah-langkah lain sampai pada penyiapan posko koordinasi respons pandemi influenza. Yang menjadi kewajiban kita saat ini untuk mengambil langkah tenang, pahami, dan tanggap atau TEPAT, kata Bayu.
Langkah TEPAT adalah memberi informasi, edukasi, dan pemahaman kepada masyarakat untuk selalu hidup bersih dengan melaksanakan hal-hal sederhana, di antaranya mencuci tangan memakai sabun, menerapkan etika bersin, batuk dengan menggunakan tisu atau lengan bagian dalam, istirahat jika flu, dan terus mencari informasi mengenai perkembangan influenza.
Koordinasi bersama perlu dilakukan dengan melibatkan lembaga swadaya masyarakat, organisasi penanganan bencana ataupun organisasi kemasyarakatan untuk menyusun langkah kerja yang nantinya dapat menguatkan pedoman kesiapsiagaan dan respons menghadapi pandemi influenza, ujarnya menambahkan.