JAKARTA, KOMPAS.com — Tiga program ditawarkan pasangan SBY-Boediono untuk meningkatkan kualitas kesejahteraan dan kesehatan masyarakat Indonesia. Pada debat cawapres, Selasa (30/6) malam, cawapres Boediono memaparkan ketiga hal tersebut, yaitu revitalisasi program Keluarga Berencana (KB), serta memberdayakan kembali puskesmas dan posyandu.
Program KB, menurutnya, belakangan ini semakin mengendur. "Keluarga berencana perlu direvitalisasi karena agak kendur dan memfokuskan pelayanan kesehatan bagi kaum miskin dan kaum setengah miskin. Oleh karena itu, perlu kegiatan preventif ditingkatkan dan memfokuskan pada penyediaan pelayanan dasar. Untuk KB, perlu reorganisasi, revitalisasi, dan koordinasi dengan pemerintah daerah," paparnya.
Berdasarkan pengamatannya, Boediono merasa prihatin dengan besarnya jumlah anak yang dimiliki masyarakat berkelas ekonomi bawah. "Jumlah anak dua saja cukup, biaya yang dikeluarkan terjangkau dan permukiman diperbaiki. Untuk itu, kami akan meningkatkan anggaran untuk bidang kesehatan sesuai kemampuan keuangan negara," ujarnya.
Guna memberikan pelayanan dasar bagi kesehatan kaum kurang mampu, dikatakan mantan Gubernur BI itu, puskesmas akan diberdayakan kembali sehingga menjangkau segala lapisan masyarakat.
"Begitu pula posyandu, di mana bidan desa jadi ujung tombak. Dokter juga perlu. Perawat perlu ditingkatkan statusnya secara pasti," kata Boediono.
Ia juga menjanjikan peningkatan pemberian jaminan kesehatan masyarakat.
Janjikan pendidikan 12 tahun gratis
Di bidang pendidikan, Boediono memaparkan akan menggunakan 20 persen pendidikan secara maksimal. Jika selama ini pendidikan gratis 9 tahun, ia menjanjikan akan meningkatkan menjadi 12 tahun pendidikan gratis.
"Pengembangan pesantren ditingkatkan, Bantuan Operasional Sekolah akan dilanjutkan, beasiswa akan diberikan, universitas, kualitas buruh ditingkatkan, penghijauan ditingkatkan, sanitasi diperbaiki," katanya.