Rabu, 23 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Sadisme Seksual, Bisakah Disembuhkan?
Senin, 29 Juni 2009 | 10:16 WIB
Shutterstock.com

Saya ibu dari anak perempuan yang berumur 29 tahun. Dia sudah dua tahun menikah, tetapi belum hamil. Waktu saya tanya, "Kok belum hamil?" Dia hanya menangis. Saya curiga ada sesuatu yang dia sembunyikan dari saya.

Beberapa hari lalu secara tidak sengaja saya melihat di pahanya ada beberapa tanda biru seperti benturan dan ada bekas gigitan. Waktu saya tanya, anak saya mengaku dicubiti dan digigit oleh suaminya.

Saya gemetar mendengar ceritanya. Suaminya selalu mencubit dan menggigit setiap mau berhubungan seks. Kalau bukan di paha, ya di bagian payudara. Kalau anak saya teriak, dia menghentikan siksaannya, baru melakukan hubungan seks.

Terus terang, masalah ini saya tanyakan setelah menyaksikan tayangan di televisi tentang Manohara yang mendapat siksaan dari suaminya, Pangeran Malaysia. Walaupun anak saya tidak disiksa sesadis Manohara, dia sangat menderita. Karena merasa sakit akibat cubitan dan gigitan, anak saya selalu menolak berhubungan seks. Hanya beberapa hari setelah menikah, ia mau berhubungan seks. Waktu itu cubitan dan gigitan sang suami tidak sekeras setelahnya. Anak saya mengatakan sudah tidak tahan, ingin cerai saja.

Pertanyaan saya, apakah suami anak saya mengalami kelainan? Apa bisa disembuhkan? Kalau bisa, perlu waktu berapa lama? Apa yang harus dilakukan oleh anak saya sebagai istri?

Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu anak saya? Saya sungguh tidak menyangka menantu saya melakukan perbuatan itu karena dia tampak sopan dan baik
I S, Banten

Penyimpangan seksual
Membaca surat Anda, saya yakin suami anak Anda mengalami penyimpangan seksual atau paraphilia yang disebut sadisme. Orang yang mengalami sadisme baru terangsang secara seksual setelah menyakiti lawan jenisnya.

Dia harus melakukan kekerasan lebih dulu terhadap lawan jenis dengan cara yang disukai. Dengan menyakiti, dia akan terangsang, lalu mampu melakukan hubungan seksual. Tanpa didahului dengan menyakiti, dia tak akan terangsang.

Anak Anda disakiti dengan cara dicubiti (sampai berbekas biru) dan digigit. Dibandingkan dengan Manohara, siksaan ini tergolong jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Namun, bukan berarti anak Anda harus merelakan diri disakiti terus seumur hidup.

Mudah dimengerti mengapa anak Anda sangat menderita, bahkan mengancam minta cerai. Pertama, cubitan dan gigitan itu sudah cukup menyakitkan, apalagi tanpa alasan jelas. Kedua, anak Anda pasti tidak mampu melakukan hubungan seksual dengan baik dan menyenangkan karena siksaan itu pasti menghambat dorongan seksualnya. Ketiga, kehamilan yang umumnya diharapkan oleh setiap orang yang menikah sulit menjadi kenyataan.

Kasus sadisme memang tidak banyak terungkap. Karena itu, di mana pun hanya sedikit yang tercatat. Saya tidak tahu apakah kenyataannya lebih banyak atau tidak. Yang pasti, kalau pasangan yang mengalami siksaan tidak melaporkan peristiwa yang dialaminya, tentu penyimpangan seksual itu tidak terungkap.

Tak dapat disembuhkan
Orang yang mengalami sadisme tidak menunjukkan tanda-tanda khusus dalam kehidupan sehari-hari. Anda tidak menyangka menantu Anda mengalami penyimpangan itu karena sehari-hari dia sopan dan baik. Perubahan hanya tampak ketika dia ingin melakukan hubungan seksual, yang didahului dengan menyakiti pasangan agar dia cukup terangsang.

Orang yang mengalami sadisme sebenarnya mengalami ketidakselarasan antara perkembangan fisikoseksual dan psikoseksualnya. Saat perkembangan fisikoseksualnya sudah dewasa sempurna, ternyata perkembangan psikoseksualnya belum dewasa, masih pada masa anak-anak. Dia jadi senang menyakiti, serupa dengan anak-anak yang pada suatu masa merasa senang bila menggigit atau mencubit.

Sadisme tidak dapat disembuhkan. Konseling dan pengobatan hanya untuk mengurangi perilaku menyakiti pasangan agar tidak timbul akibat yang lebih buruk lagi. Tidak ada yang dapat Anda lakukan selain memberikan pengertian kepada anak Anda bahwa suaminya tidak normal dalam aspek kehidupan seksual.

Jadi, kalau anak Anda merasa tidak tahan lagi, lalu mau bercerai, saya pikir dapat dipahami. Tentu dia tidak rela mengalami siksaan lebih lama lagi dan dia punya kesempatan hidup berbahagia dengan orang lain yang normal.
 
Konsultasi seksologi dengan dokter ahli andrologi dan seksologi, Prof Dr Wimpie Pangkahila, Sp And

Tabloid Gaya Hidup Sehat
Sumber :
Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!