
MOJOKERTO, KOMPAS.com — Penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi pria guna membatasi angka kelahiran dan mendukung program keluarga berencana (KB) di Indonesia masih terkendala norma sosial. Hambatan sosial itu berupa stigma yang ada di tengah masyarakat bahwa pengguna kondom bukanlah orang-baik-baik.
Kepala Badan Koordinasi Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief menyebutkan hal itu, Selasa (16/6), seusai menghadiri acara Gebyar Percepatan Pencapaian Peserta KB Baru Provinsi Jatim Menuju Kabupaten/Kota bebas Unmeet Need KB di Pendapa Pemerintah Kabupaten Mojokerto.
Sugiri mengatakan, pandangan negatif ini membuat target BKKBN untuk mencapai 578.000 akseptor KB pada tahun ini dengan metode kondom laki-laki belum mencapai hasil memuaskan.