
KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan secara resmi pandemi flu telah tiba. Bagi sebagian orang, barangkali istilah pandemi terdengar seram. Apalagi istilah itu mengingatkan pada tiga pandemi influenza yang menewaskan jutaan orang. Pandemi terparah terjadi 1918-1919 dengan nama ”flu Spanyol”.
Pandemi flu Spanyol yang terjadi di awal abad ke-20 itu menewaskan lebih dari 50 juta orang, terutama mereka yang berusia muda dan sehat. Akibat flu itu, para penderita bisa meninggal dengan paru-paru penuh berisi darah hanya dalam hitungan hari.
Meski WHO telah menyatakan secara resmi terjadinya pandemi influenza A-H1N1, Kamis (11/6), pakar kesehatan berusaha menghindari pernyataan atau komentar mengenai kemungkinan terburuk, yakni kematian. Istilah pandemi terkesan menakutkan karena pengalaman di masa lalu. Padahal, sebenarnya pandemi hanyalah istilah teknis yang mengindikasikan peta wilayah penyebaran penyakit.
Meski memang konotasinya menyeramkan, kata-kata pandemi itu tidak menunjukkan kadar bahaya suatu penyakit. ”Ada pandemi yang serius dan ada juga yang tidak,” kata Albert Osterhaus, pakar virus di Universitas Rotterdam, Belanda.
Istilah pandemi juga tidak hanya berlaku untuk influenza, tetapi juga ada pandemi AIDS dan malaria. Semua penyakit itu menewaskan lebih dari tiga juta orang setiap tahunnya dan menulari jutaan jiwa. Kedua penyakit seperti AIDS dan malaria itu menyebabkan kesedihan dan kengerian luar biasa, tetapi yang jelas bukan kepanikan.
Kenapa tidak panik? Pandemi sudah ada sejak berabad-abad lalu. Artinya, orang sudah mempertimbangkan segala bentuk risiko yang akan muncul. Peneliti di London School of Hygiene and Tropical Medicine di Universitas London, Adam Kamradt-Scott, menegaskan, penting untuk tetap tenang seiring dengan dunia yang tengah menghadapi virus yang baru.
”Bahkan, dalam skenario terburuk, jika memang nantinya virus ini menyebar ke sekitar 25 persen penduduk dunia, banyak orang yang akan bisa pulih dan hidup sehat kembali. Memang ada risiko orang bisa meninggal, tetapi mayoritas orang yang terinfeksi virus itu akan pulih. Orang perlu waspada dan berhati-hati serta tetap bertindak berdasarkan bukti ilmiah dan tak hanya panik yang tidak berdasar,” kata Kamradt-Scott.
Sampai saat ini belum terlalu jelas seberapa mematikan atau berbahayanya virus A-H1N1. Pasalnya, sampai saat ini virus itu masih dipelajari para pakar virus dan ahli yang menganalisis virus dan cara-cara penyebarannya. Menurut sebagian pakar kesehatan, virus ini lama kelamaan akan kehilangan kekuatannya jika manusia memiliki kekebalan terhadap virus ini.
Banyak faktor—selain gen—yang bisa membentuk pandemi, antara lain kecepatan penyebarannya, faktor kedekatan, dan faktor musim (pada musim dingin biasanya virus lebih cepat menyebar daripada musim panas). Selain itu, juga faktor kesiapan medis dan antisipasi individu dan pemerintah. Dunia kini rentan karena virus ini bisa menyebar dengan cepat antarbenua hanya dalam hitungan jam karena adanya transportasi udara.