
SYDNEY, KOMPAS.com - Negara-negara di seluruh dunia mengatakan siap memberantas virus flu babi, dan menyerukan masyarakat untuk tidak panik setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan wabah global itu.
Para pejabat WHO menandaskan, bahwa penunjukan wabah ’moderat’ itu tak berarti jumlah kematian dari virus influenza A (H1N1) - yang saat ini mencapai 144 di seluruh dunia - akan meningkat, dan tak merekomendasikan penutupan perbatasan-perbatasan.
Namun para pejabat di seluruh dunia menyerukan kewaspadaan, menyatakan bahwa tindakan-tindakan dan kewaspadaan akan menjadi cara terbaik untuk menghentikan penyebaran virus, yang telah menginfeksi hampir 29.000 orang di 74 negara.
"Saya rasa dalam artian siap-siaga, kami siap," kata Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd, Jumat, setelah pemerintahnya menetapkan untuk tidak meningkatkan tingkat kewaspadaan nasional terhadap flu itu.
"Influensa, dalam setiap tahun, bisa menjadi masalah di dalam masyarakat. Ini adalah suatu bentuk kuat dari influensa dan kita perlu sangat berhati-hati, dan kami melakukan itu berdasarkan kebiasaan sehari-hari."
Australia adalah negara kelima berdampak buruk akibat virus ini di seluruh dunia, setelah Amerika Serikat, Meksiko, Kanada dan Chile. Keputusan WHO untuk mengumumkan wabah itu terjadi setelah para pejabat memutuskan, bahwa virus telah menyebar di seluruh Amerika.
Sejauh ini lebih dari 1.300 orang di Australia telah didiagnosis dengan flu babi, termasuk beberapa bintang olah raga terkenal. Empat orang masih mendapat perawatan intensif.
Di AS - yang jumlahnya hampir separuh dari semua kasus di seluruh dunia - para pejabat mengatakan, Washington siap untuk menangani virus ini.
"Kami bertindak agresif untuk mengatasi virus ini karena sudah menyebar di seluruh negeri. Kini tantangan kami adalah mempersiapkan kemungkinan melenyapkannya," kata Menteri Kesehatan Kathleen Sebelius dalam satu pernyataannya.
Di Meksiko, yang adalah pusat dari berjangkitnya virus tersebut dan di mana sebagian besar kematian terjadi, Menteri Kesehatan Jose Angel Cordova mengatakan, virus tersebut sudah di bawah kendali. Ia menambahkan: "Virus tersebut tidak akan muncul namun kami masih akan mengamati beberapa kasus."
Sejauh ini, tidak ada korban tewas yang terjadi di luar Amerika.Di Jenewa, Kamis, Ketua WHO, Margaret Chan, menyerukan agar tenang setelah badan PBB itu meningkatkan tingkat kewaspadaan ke peringkat tertinggi enam. Dia mengatakan bahwa wabah itu ’tidak menyatakan secara langsung kita akan menyaksikan peningkatan jumlah kematian atau kasus-kasus yang sangat hebat.
"Sebetulnya bertolak-belakang, banyak orang yang mendapat penyakit ringan ini akan sembuh tanpa pengobatan di dalam beberapa kasus, dan hal itu merupakan kabar bagus, namun ada kecenderungan untuk berpindah ke cirinya tersendiri dan ini yang menjadi kecemasan terbesar kita," katanya.
Asisten Direktur Jenderal WHO, Keiji Fukuda memperingatkan wabah akan bertahan sampai dua tahun.
Sekjen PBB, Ban Ki-moon, mengatakan pengumuman WHO bukanlah ’suatu tanda bahaya’ karena hal itu dicerminkan dari sebaran penyakit secara geografik, tetapi dunia perlu untuk waspada.
Pemerintah Hong Kong Kamis memerintahkan semua sekolah dasar di kota itu akan ditutup selama dua pekan, setelah rentetan pertama kasus flu babi setempat ditemukan di wilayah China tersebut.
Tetapi warga kota, di mana sekitar 300 orang meninggal karena wabah SARS pada 2003, masih tak terusik oleh pengumuman WHO tersebut.