
KOMPAS.com - Organisasi kesehatan dunia (WHO) tengah bersiap untuk mengumumkan terjadinya pandemi swine flu (flu babi). Tindakan ini akan berimplikasi luas, yakni diproduksinya vaksin dalam skala besar dan pertanyaan mengapa tindakan ini baru diambil setelah penyebaran virus A-H1N1 ini semakin luas.
Rabu (10/6) lalu, salah seorang petinggi WHO Dr.Margaret Chan memeriksa delapan negara dengan tingkat penyebaran flu babi paling luas untuk mengetahui apakah pandemi global sudah layak diumumkan. Setelah telekonfrens dengan kedelapan negara, hari ini akan diadakan rapat penting dengan para ahli virus flu.
Swine flu pertama kali ditemukan di Meksiko dan Amerika Serikat pada bulan April lalu, dan kini telah menyebar ke 74 negara di dunia. Rabu kemarin WHO melaporkan telah terjadi 27,737 kasus dengan korban jiwa 141 orang.
Kini kasus flu babi telah memasuki fase lima dalam skala pandemi menurut standar WHO, yang berarti ancaman pandemi secara luas ada di depan mata. Pada skala 6, yaitu skala tertinggi, berarti pandemi telah terjadi. Bila deklarasi pandemi sudah dibuat, pihak industri farmasi akan diminta mempercepat produksi vaksin virus flu babi.
Menurut Chan, secara personal ia yakin pandemi telah berjalan, tetapi sebelum pernyataan dikeluarkan, pihaknya masih mencari bukti nyata bahwa virus flu babi ini telah menular antar manusia di luar negara AS.
"Begitu saya dapat bukti yang tak bisa disangkat, saya akan langsung mengumumkan," katanya. Bila hal itu terjadi, maka flu babi akan jadi pandemi flu pertama dalam kurun waktu 41 tahun, setelah flu Hong Kong di tahun 1968.
Bila pandemi global telah dinyatakan oleh WHO, maka setiap negara wajib menjalankan rencana yang telah disiapkan. Ini berarti pemerintah tiap negara harus menambah anggaran kesehatan, baik dalam pengobatan atau pencegahan penyebaran, misalnya dengan melakukan karantina.
Farmasi Bersiap-siap
Sementara itu, pihak industri farmasi saat ini juga telah siap menanggapi status pandemi dari WHO. Stephen Rea, juru bicara dari GlaxoSmithKline (GSK) menyatakan pihaknya telah menguji vaksin flu babi untuk mengetahui tingkat kecepatan vaksin ini bisa diproduksi.
Menurut Rea butuh enam bulan untuk memproduksi vaksin ini dalam skala besar. Namun, dia mengatakan pihaknya siap mempercepat produksi bila status pandemi telah dikeluarkan. GSK juga akan membuat kontrak dengan Inggris, Belgia dan Perancis untuk memasok vaksin ke negara-negara tersebut secepat mungkin.
Raksasa farmasi lainnya, seperti Sanofi Pasteur juga telah memproduksi vaksin flu ini sejak WHO memberikan bibit virus yang dibuat oleh US Center for Disease Control and Prevention bulan lalu.
Berdasarkan standar WHO, bila telah masuk dalam kriteria pandemi, berarti virus telah menyebar ke minimal dua bagian negara. Dengan ribuan kasus di Amerika Utara dan ratusan di Jepang, Australia, dan Eropa, para ahli telah mengatakan sebenarnya standar pandemi telah dicapai, tapi WHO memilih menunda menyatakan pandemi karena alasan politik.
"Kalau melihat fakta secara ilmiah, sebenarnya minggu lalu kita telah masuk dalam skala pandemi. Yang terjadi sekarang bukan cuma kesehatan publik tapi juga politik," kata Michael Osterholm, ahli flu dari Universitas Minnesota.
Bulan Mei lalu, sejumlah negara telah meminta WHO untuk menunda pernyataan pandemi karena dikhawatirkan akan memancing histeria dan kepanikan massa. Namun melihat perkembangan terakhir dengan melihat laporan media dan pendapat para ahli flu, WHO akhirnya mempertimbangkan untuk mengubah keputusannya.