Sabtu, 1 November 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Cegah Kekambuhan dengan Senam Asma
Sabtu, 6 Juni 2009 | 03:49 WIB

Jakarta, Kompas - Serangan asma yang sering kambuh membatasi aktivitas penderita bahkan berakibat fatal. Karena itu, pasien perlu menjalani terapi yang mengatasi inflamasi, mengontrol sekaligus melegakan pernapasan saat gejala asma timbul. Untuk mendapat hasil optimal, terapi itu harus didukung olahraga secara teratur.

”Pemahaman pasien tentang terapi asma masih rendah karena kurangnya edukasi,” kata Ketua Yayasan Asma Indonesia Retno Ramansaman dalam temu wartawan, Kamis (4/6) di Jakarta. Hambatan lain pengobatan asma adalah mahalnya biaya terapi untuk mengatasi gejala dan mengontrol penyakit itu.

”Keberhasilan pengobatan asma tidak hanya ditentukan obat- obatan yang dikonsumsi, tetapi harus ditunjang olahraga untuk meningkatkan kemampuan pernapasan,” kata Ketua Dewan Asma Indonesia Prof dr Faisal Yunus. Beberapa pilihan olahraga adalah berenang dan jalan santai, tetapi perlu dihindari faktor pencetus asma saat berolahraga, seperti cuaca dingin.

”Senam asma merupakan pilihan olahraga yang tepat bagi penderita asma,” kata Faisal.

Senam asma bertujuan melatih cara bernapas yang benar, memperkuat otot-otot pernapasan, mempercepat dan mempertahankan asma yang terkontrol. Syaratnya, mereka yang hendak ikut senam asma tidak sedang terserang asma, tidak menderita flu, dan kurang tidur.

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa senam asma dan beberapa olahraga lain yang dianjurkan bagi penderita asma bisa mengurangi tingkat kekambuhan dan mempertahankan asma terkontrol. Pasien yang rajin senam asma juga tidak lagi bergantung pada obat-obatan asma, terutama pelega pernapasan.

Tidak terkontrol

Faisal menyatakan, saat ini lebih dari 90 persen kasus asma di Indonesia tidak terkontrol. Hal ini terjadi karena kurangnya edukasi dan pemahaman pasien tentang terapi asma, ketergantungan pada obat untuk melegakan pernapasan, serta kepatuhan pada terapi pemeliharaan masih rendah.

Asma yang tak terkontrol ditandai tiga atau lebih gambaran asma terkontrol sebagian, yaitu mengalami gejala asma lebih dari dua kali seminggu seperti sesak napas, mengi, dada terasa berat dan batuk. Penderita terjaga tengah malam karena asma, aktivitas terbatas, fungsi paru di bawah normal, perlu obat pelega pernapasan lebih dari dua kali dalam seminggu.

Karena asma adalah kondisi kronis, penderitanya butuh penanganan jangka panjang. Pasien asma perlu obat untuk mengatasi serangan atau sebagai pelega dan pengobatan untuk mengendalikan peradangan pada saluran pernapasan dan mencegah timbulnya serangan asma.

”Kunci keberhasilan kontrol asma adalah mengobati inflamasi sesegera mungkin saat gejala timbul,” kata Faisal. Pendekatan lama pada asma selama ini lebih ditujukan pada bagaimana mengatasi serangan dengan obat pelega. Faktanya, peradangan pada bronkus dapat memicu kembali timbulnya serangan yang menyebabkan serangan asma terjadi berulang kali.

Atas dasar itu, Inisiatif Global untuk Asma mengeluarkan panduan tahun 2008 tentang penatalaksanaan asma secara total lewat terapi kombinasi pemeliharaan dan pelega dalam satu tabung inhaler untuk melegakan pernapasan sekaligus mengatasi peradangan. ”Terapi inhalasi relatif tak ada efek samping. Ini berbeda dengan obat oral yang menimbulkan sejumlah efek samping,” kata Faisal. (EVY)

Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!